Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, Maret 06, 2014

Pertama Dan Plus

Jika aku posting tentang hobi mengoleksi buku, pasti hobi tersebut sudah umum dan biasa - biasa saja, toh semua orang juga bisa untuk mengoleksi buku apalagi bagi wormbooks yang pasti memiliki buku dengan jumlah yang tidak sedikit. Tapi, aku bukan sekadar penimbun buku dan mencari sisi unik dari buku yang aku koleksi. Apalagi bertemu dengan Athaya memang karena nimbun buku eh dibaca kok chicklitnya.

Jika Athaya tergila - gila akan high heels dan cenderung memadu padankan warna high heels dengan warna cat kukunya agar terlihat keren dan sempurna. Apakah aku lebih geek dari Athaya? Hmmm... Mari aku tunjukkan apa koleksiku yang membuatku tergila - gila.

Pertama dan plus, merupakan buku yang menjadi incaran. Maksudnya pertama dan plus adalah Buku cetakan pertama dan ada tanda tangan dari si penulis. Rasanya senang berkali - kali lipat jika ada tanda tangan asli dari si penulis di buku yang kita miliki, apalagi jika yang diberikan tanda tangan merupakan buku cetakan pertama. Buku cetakan pertama merupakan buku yang pertama kali ada di pasaran, meskipun ada typo, justru itu yang membuat khas dari si buku cetakan pertama. Diibaratkan seperti melahirkan anak pertama yang lahir dengan suatu kebanggaan dan rasa puas. Rasanya punya buku cetakan pertama dan ternyata buku yang kita beli dalam beberapa bulan terakhir ada cetakan berikutnya, ada rasa bangga jika ternyata kita memiliki buku itu dalam cetakan pertama.


Koleksi pribadi

Keterangan Gambar :

Sebelah kiri yang sudah ada tanda tangan penulisnya : Raditya Dika (Manusia setengah salmon, cetakan pertama 2011), Habbiburahman El Shirazy (Ayat - ayat cinta, cetakan kelima belas, 2006), Dyah Rinni (Unfriend You, cetakan pertama 2013), Devania Annesya (Novel X, cetakan pertama 2014), Monica Anggen (Sunrise at the sunset, cetakan pertama 2014). Dari novel yang ada tanda tangan penulisnya hanya novel ayat - ayat cinta yang bukan cetakan pertama.

Sebelah kanan, novel yang plus meskipun belum ada tanda tangan penulisnya. Novel yang paling jadul adalah Dokter Anastasia karya Umar Nur Zain, novel tersebut merupakan novel terbitan tahun 1980 dan merupakan novel cetakan pertama. Umar Nur Zain merupakan memiliki banyak prestasi diantaranya penulis novel, wartawan, penulis karya ilmiah, dan pimpinan redaksi majalah. EYD dalam novel Dokter Anastasia memang beda banget dengan EYD yang sekarang kita pakai, tapi alur ceritanya mudah dimengerti. Kemudian ada novel 1Q84, Balada si Roy. Kalau perlakuan kusus untuk buku - buku keren itu, hanya disampul plastik dan jarang sekali dibaca lagi, apalagi dipinjam kan, aduh enggak deh.

Menurutku, mencium aroma buku baru dan buku lama, bisa buat tenang, ritual sebelum membaca buku ya mencium aroma halaman buku terlebih dahulu, baru deh nikmat membaca. Masih mengincar tanda tangan Dee, dan Clara Ng. Eh, chicklit Geek In High Heels Belum ada tanda tangannya nih... #Kode


Tulisan ini dibuat untuk mengikuti writing contest "Me Versus The Geek Athaya"

7 komentar:

  1. Senangnya ya, punya buku cetakan pertama dan ada tanda tangan penulisnya :)

    BalasHapus
  2. Wah bagaimana caranya itu dapat ttd penulisnya sari?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikutan gathering atau workshop kepenulisan, Mbak ^_^

      Hapus
  3. Clara NG aku suka tuh, pernah ketemu tapi malu2 buat minta tanda tangan :)

    BalasHapus
  4. Senengnya buku koleksi buku yg banyak....plus ttd pula....TOP deh...

    BalasHapus
  5. Hahm MSSnya bang Dika punya yang ada tanda tangannya, mbak?, mauuuu, hhaha. saya penggemar karyanya, buku MSS malah waktu itu pre-order di b*kukita.com. berharap sekali yang ada ttdnya, tapi kenyataan tidak, huaa. sudah nggak dapat, bukunya telat sampainya (Jakarta - Malang, empat sampai enam hari kerja), parahnya lagi, melewati itu barangnya belum kunjung sampai, hhaha. ternyata gegara saya kurang lengkap ngasik alamatnya (kontrakan, gak begitu paham), jadi nyantol di JN* Malang, hhaha. mbak alamatnya mana?, saya rampok ah bukunya, bhaha :P

    saya hanya punya bukunya bang Tere, tiga doang yang ada tanda tangannya, hihi, ikut seminarnya dua kali di Widlok UB :D

    BalasHapus

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)