Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, Agustus 01, 2017

Tipe Kepribadian Terhadap Pengaturan Keuangan

yuk mengatur keuangan.


Seberapa penting sih mengatur keuangan dalam keseharian? Apa termasuk orang yang "Ya udahlah kan mumpung punya duit, belanjain aja, ntar juga awal bulan dapat gajian," atau malah orang yang pemikir banget untuk mengeluarkan uang? Banyak literatur tentang perencanaan keuangan, dari teori hingga aplikasinya, kadang untuk mempraktikkan susah juga sih, ada aja godaan untuk belanja ini itu, nggak senjaga "boros" πŸ˜…πŸ˜…

Eh saat berkunjung ke perpustakaan daerah, aku membaca buku yang menarik! buku yang aku baca, berjudul mengungkapkan beberapa tipe – tipe kepribadian seseorang terhadap pengaruh keuangan yang dilakukan. Tipe – tipe tersebut diambil dari seminar Millionaire Mind Intensive yang diikuti oleh penulis di Singapura pada tahun 2012.

1. Spender.


Di kota – kota metropolitan seperti Jakarta, penulis yakin jika tipe ini menduduki peringkat pertama. Seseorang spender memiliki beberapa cirri utama, di antaranya adalah resah saat melihat timpukan uang di tabungan dan rata – rata memiliki gaji sepuluh koma, alias tiap tanggal sepuluh sudah megap – megap. Meski lemari baju dan tas sudah penuh, tetap saja setiap bulan diisi dengan yang baru. Kartu kredit? Minimal ada dua di dompet!

Menurut para spender, “Hidup hanya sekali! Live life to the fullest!” Motto lain dari para spender adalah “Tanpa spenders, perekonomian Negara tidak akan berkembang. Spenders are the economy movers!" Apakah anda salah satunya?

Penulis tersebut mengatakan jika ia adalah seorang spender namun masih level wajar, artinya penulis tersebut tahu kapan harus berhenti belanja – baik karena jatah bulanan sudah habis atau karena mendadak sadar saat di depan kasir.

2. Saver.


Saver adalah mereka yang didominasi otak kiri, suka menganalisa, dan sering merasa khawatir yang berlebihan. Bagi para saver, uang adalah sesuatu yang sulit didapat sehingga mereka harus menyimpannya. Para saver memiliki prinsip yang harus diikuti yaitu hidup bukan hanya untuk hari ini. Kalau tidak dari sekarang, apa yang terjadi di masa depan. Biasanya baju, sepatu, dan tas yang mereka miliki bisa dihitung dan mereka memesan makanan paling murah yang ada di menu.

Seorang saver sering disalah artikan sebagai orang yang kikir. Padahal, sebenarnya mereka adalah orang yang penuh perhitungan. Seorang saver sangat suka membuat rencana pengeluaran dan berusaha untuk mematuhi anggaran yang telah dibuat.

3. Avoider.


Berikut ini adalah tipe yang selalu menghindar dan tidak peduli dengan urusan uang. Uang adalah sebuah isu yang tidak untuk dibicarakan. Bila para avoider sudah menikah, mereka cenderung memberikan hal pengelolaan uang kepada pasangannya. Dan, cukup dengan mendapatkan bagiannya saja.

Saat belanja, seorang avoider akan menyesuaikan keadaan. Membeli seperlunya dan hanya kalau ada uang. Bila tidak, mereka tidak akan terlalu ngotot untuk memiliki barang tersebut.

4. Monk.


Ada golongan yang menganggap uang sebagai sesuatu yang bersifat duniawi. Karena itu, mereka menganggap hidup sebisa mungkin tidak perlu berurusan dengan uang. Uang sering dianggap sebagai sumber kejahatan dan menjadi alasan atas hal – hal buruk di dunia. Dengan pemikiran seperti ini, mereka tidak akan bekerja untuk uang. Kebutuhannya hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup.

Nah, demikian tipe – tipe kepribadian seseorang terhadap pengaturan keuangan. Menurut penulis, tidak ada yang salah atau benar atas jenis kepribadian tersebut. Tujuan yang harus dicapai adalah mengenal diri sendiri untuk melakukan perbaikan sikap dan keadaan financial di masa depan.

Dari penjelasan berbagai tipe tersebut, sepertinya aku termasuk Saver😁😁, karena tiap bulan mempertimbangkan bener – bener berapa jumlah uang jajan, berapa uang yang dikeluarkan untuk buku, dan lain sebagainya sampai mumet sendiri karena sangking detailnya, wkwkwkπŸ˜‚πŸ˜‚. Tapi entah, merasa puas gitu kalau sudah ada pembagian pos – pos keperluan bulanan, berasa “di jalur yang benar”, dan jangan heran ya kalau bajuku itu – itu aja, wkwkwk.πŸ˜†πŸ˜†

Sebagai seorang saver, menabung merupakan hal bisa dikatan wajib! Rasanya kalau punya duit di bank dan saldonya bertambah, seperti punya persiapan di masa datang. Di rumah juga punya celengan dari bekas minuman untuk nabung duit koin, hasil dari duit kembalian, meskipun receh, kalau nabung sedikit demi sedikit pasti akan banyak. Kalau sudah banyak ya ditabung di bank biar lebih aman, resiko pastinya kalau menyimpan uang di rumah, mending nabung di bank karena setiap simpanan kita di bank dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). 


Apa itu LPS?



Kalau teman – teman termasuk tipe yang mana?



Referensi :

Your money, your attitude. Dwita Ariani. Transmedia pustaka. 2015

2 komentar:

  1. kalau saya bagian yang ngenes
    ngenes g ada duit,hehe

    BalasHapus
  2. aku kayaknya masuk saver deh ...klo mau beli apa-apa mikir dulu sampai seminggu dan kadang endingnya ga jadi beli wkakak

    BalasHapus

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)