Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, Desember 18, 2015

Ini Loh Etika Membangun Maupun Merenovasi Rumah

dokumentasi pribadi


Dengarkan curhatku..

Iya, ini curhatan, bukan rasan – rasan.

Beberapa minggu yang lalu atau mungkin sebulan yang lalu, tetangga depan (Sebut saja si A) datang ke rumah, meminta ijin untuk membangun rumah (entah bangun rumah atau renovasi, rumah udah jadi kemudian dirombak dari nol untuk dibangun sesuai dengan desainnya). Sebagai tetangga yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, mengiyakan ijin tersebut, toh sesama tetangga kudu tolong – menolong, karena tetangga merupakan saudara terdekat kita. Selain minta ijin ke orangtuaku, si A ini juga minta ijin ke tetangga sebelah kiri dan kanan.

Hari pengerjaan dimulai. Oke, nggak ada masalah, tukang yang mengerjakan ya seperti tukang lainnya, merombak total rumahnya. Eits, kok seminggu kemudian ada yang aneh ya? Astaga! Tukangnya kerja seminggu, nggak ada libur. Heh! Yang bener aja. Oh, mungkin “kejar – kejaran” sama musim hujan, maklum kan udah memasuki musim hujan, mau cepat menyelesaikan pekerjaan untuk merobohkan rumah, paling nanti hari Minggu mereka libur. Beberapa minggu kemudian, astaga! Ini beneran ya tukangnya nggak ada libur sama sekali. Bukan masalah tukangnya sih, mungkin sudah ada perjanjian dan fee yang pantas untuk kerja mereka, tapi “mbuntutnya” alias efeknya kemana – mana

Oke, si tukang ini mulai mengerjakan jam 7 pagi – 5 Sore, istirahat jam 12 siang – 1 siang. Tapi ya kasih kelonggaran buat tentangga untuk tidak mendengar alat – alat pertukangan hingga seminggu non-stop. Meskipun orang – orang perumahan identik dengan orang pekerja, tapi kan ya butuh istirahat, hari Minggu buat istirahat, eh masih kudu “dipaksa” denger suara gergaji, palu dan teman – temannya. Ya, kalau dibilang menyesal memberikan ijin, nggak juga sih. Beneran, kita tulus untuk membantu, tapi kok ya kenyataannya bikin nyesek sendiri. Akhirnya hanya bisaaa..

Ngedumel..


Iyes, ngedumel. Mau protes kok ya nggak enak sendiri, mau nyindir dikira nyinyir, hanya bisa menatap rumput yang bergoyang.

Untuk teman – teman yang mau membangun atau merenovasi rumah, ini loh etikanya :

1. Meminta ijin tetangga kiri – kanan – depan. 

Kalau ini, sudah dilakukan sama si A itu. Dimulai dari niat yang baik, akan berjalan dengan baik. Meskipun kenyataanya bikin nyesek tetangga.

2. Tetapkan aturan pekerjaan pertukangan. 

Nah ini, penting loh menetapkan jam kerja, pernah si tukang itu sudah mau maghrib masih aja bising, belum beres – beres kerjaan.berikan sehari untuk tukangnya libur, ini demi rasa kemanusiaan yang emang akunya nggak tega lihat orang kerja fisik tanpa henti, minimal sehari ada libur lah. Selain lebih memanusiakan dari sudut tukang, juga memanusiakan dari sudut tetangga. Meskipun perumahan orangnya pada pekerja semuanya, tapi pengin dong merasakan suasana tenang untuk istirahat.

3. Tengoklah rumah yang dibangun atau renovasi.

Iya percaya, semua ingin “tau – tau jadi” “tinggal beres”. Tetapi nggak sekedar menengok rumah dan melihat sampai mana perkembangannya, melainkan ngobrol juga sama tetangga, apa ada keluhan selama pengerjaan. Percaya deh, selama pengerjaan, debu – debu selalu seliweran di rumah. Sampai bersih – bersih rumah kudu ekstra, nyiram bunga lebih dari jadwal biasanya. Hingga privasi juga terngganggu karena si A ini bangun rumah tingkat, jadi ya jendela rumah selalu ditutup rapat plus gorden selalu menutupi kaca jendela.
4. Sisa – sisa bahan bangunan dirapikan.

Kalau yang ini, tukangnya termasuk rajin dan rapi, soalnya habis selesai pengerjaan (meskipun hampir maghrib belum buyar), selalu dirapikan, pasir, semen ditata rapi. Selain sedap dipandang, mencegah adanya paku atau benda tajam yang berhamburan.

Hanya ilustrasi semata


Ya semoga cepat selesai, dan semoga kita selalu diberikan kesabaran untuk menjadi tetangga yang baik hati. Aamiin.

3 komentar:

  1. kerja tanpa libur. emang ngeselin kalo kayak gitu ya, sabar aja ya.
    iya kalo cuma 2 minggu ya, lha ini pasti lama.

    iyalah belum sanggup bangun rumah tangga makane tetengga yang bangun rumah sendiri.

    BalasHapus
  2. Jangan2 tukangnya masih keluarga yang punya rumah mba, soalnya disini ada juga yang begitu, kerjaannya juga rapi plus gak ada liburnya juga, pokoknya tukangnya tuh ada yang udah kakek2, nenek2 pun ada, kami yg ngeliatin cuma geleng2, tp gak berani nanya cuma ngerasa iba doang, eh pas rumahnya udah jadi (rumah gedong), lah kok ya kakek2 dan nenek2nya juga tinggal disana, ternyata mantu nya yg bikin rumah, fiuh

    BalasHapus
  3. tukangnya lagi butuh duit apa lagi dikejar deadline?
    bisa juga tukangnya adalah kerabat sendiri...
    hehehe..

    coba tanyakan saja mbak :))

    BalasHapus

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)