sariwidiarti

Blogger lifestyle Surabaya, berbagi cerita tentang kuliner, wisata, parenting, dan gadget. semoga bermanfaat

Sabtu, Juni 30, 2018

Pengalaman menggunakan KA Harina dan KA Gumarang Eksekutif Surabaya – Tegal

stasiun surabaya pasarturi


Tahun ini diberikan rezeki dan kesempatan untuk mudik ke kampung halaman, Tegal. Banyak yang nggak menyangka kalau aku asli Tegal, hmm.. sebenarnya Tegal itu kampung halamannya Mama, kalau aku sih lahir di Surabaya. Makanya, punya cita – cita nantinya punya suami yang agak jauh biar nantinya bisa merasakan pulang kampung, merasakan yang namanya mudik.


Bersyukur berada di Sidoarjo yang mepet dengan Surabaya, mudah untuk mendapatkan transportasi kalau mau mudik, maunya sih pakai pesawat karena rumah dekat bandara, apa daya belum ada bandara komersial di Tegal, adanya Semarang atau Jogja, ya sudah lah pakai kereta aja.

Baru beberapa tahun menggunakan jasa kereta api kalau mau mudik ke Tegal, karena biasanya pakai bis malam, dan membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam, huhuhu tersiksa rasanya di bis. Lama – kelamaan, kok harga tiket bis nggak jauh beda dan pelayanannya menggunakan salah satu bis malam kok menurun dan kecewa, ya sudah deh beralih ke kereta api. Karena tidak ada tujuan akhir Tegal, biasanya pakai kereta yang tujuannya ke Bandung atau Jakarta, dengan pemberhentian sebentar di stasiun Tegal.

Beberapa pilihan kereta api, tapi lebih suka dua KA ini, yaitu Gumarang (Surabaya – Jakarta), dan Harina (Surabaya – Bandung). Kedua KA ini ada beberapa kelas, ekonomi, bisnis dan eksekutif. Kalau sedang musim mudik biasanya ada tambahan gerbong.

mau ke mana?


Pilih eksekutif karena lebih lega aja tempat duduknya, biasa lah ya punya kaki panjang rasanya pengin bebas gerak ke mana – mana, dan AC lebih dingin. Fasilitasnya nggak jauh beda sih dengan kelas ekonomi dan bisnis, kenyamanan yang lebih yahud. Fasilitas makanan, eksekutif nggak ada makan, kalau mudik di saat Ramadan, dapat nasi kotak gitu untuk buka puasa.

Jangan heran kalau musim mudik, kereta banyak yang menambahkan gerbong dan menyebabkan kepadatan jadwal, alhasil ada kejadian delay (hmm.. berasa pesawat ya) tapi kejadian ini saat pulang ke Surabaya, kalau berangkat dari Surabaya, lancar jaya karena mudiknya saat sebagian besar orang – orang pada mudik. Oke lah mari cerita secara runut, dimulai dari berangkat dari Surabaya.

KA Harina.

Pilihan pertama tertuju ke KA Harina (Surabaya – Bandung) karena berangkatnya lebih awal dari kereta lainnya, kurang lebih Surabaya – Tegal membutuhkan waktu 6 jam, dan jadwal berangkat kereta banyak yang sore hari, memilih lebih awal agar sampai Tegal nggak terlalu malam, berasa kayak ngeronda ya kalau terlalu malam.

KA Harina eksekutif


Memilih stasiun Pasar Turi Surabaya karena memang stasiun ini salah satu stasiun yang besar, startnya kereta di Pasar Turi, enak banget karena bisa lihat lokomotifnya disiapkan dulu, suara kereta yang khas, bikin kembali ke masa lalu, suka lihat kereta api lewat. Dulu nih, waktu kecil, punya rumah (lebih tepatnya ngontrak) yang dekat dengan pasar turi, mengenang masa kecil, kan dulunya warga Surabaya, sebelum pindah ke Sidoarjo.

Kereta api sama saja dengan Pesawat, berangkat tepat waktu, kalau ketinggalan ya berarti bye byeee sayang. Setelah mendapatkan tiket yang berbentuk print out atau email kalau pesan online, jangan lupa cetak boarding pass, kemudian menunggu di ruang tunggu. Di ruang tunggu ini untuk calon penumpang yang jam keberangkatan sebentar lagi, jadi kalau kamu berangkat jam 7 malam, nggak bisa di ruang tunggu kalau masih jam 5 sore. Paham yes?

makan duluuu


Karena tahu kalau di kereta nggak dapat makan, meskipun ada restorasi, aku biasanya beli makanan terlebih dahulu, di stasiun banyak yang jual makanan maupun cemilan. Kalau nggak mau repot, bisa beli di restorasi, nanti ada mbak dan mas – mas yang menawarkan cemilan, minuman dan makanan. Tetapi kalau saat Ramadan dapat makanan gratis untuk berbuka puasa, enak kaaan.

random :))


Alhamdulillah, nggak ada delay saat berangkat dari Surabaya, dan tepat waktu saat tiba ke stasiun Tegal. Lain halnya saat dari stasiun Tegal ke Surabaya.

Kereta Api Gumarang jurusannya Jakarta (Stasiun Gambir) – Surabaya (Pasar Turi), seharusnya berangkat jam 7.40 WIB, eh malah delay hingga jam 9 malam, huhuhuhu… lelah hamba. Ternyata memang padat dan memang sedang arus balik, padat, banyak kereta yang menambah gerbong. Harap maklum saja.

Kereta Api Gumarang memang masih selevel dengan Kereta Api Harina, kenapa nggak pakai Harina? Karena terlalu larut malam, cari yang agak sore (meskipun 7.40 termasuk malam). Eh beberapa saat setelah kereta berangkat, malah berhenti sejenak di stasiun yang kecil (eh lupa stasiun apa) karena nunggu (lebih tepatnya mengalah) dengan kereta lain yang akan melaju, kereta Sembrani yang membawa gerbong tambahan. Hmmm.. baiklah.

hmmm... ternyata nggak sempat foto kereta api gumarang :))


Karena aku tumbuh dari keluarga yang sering banget menggunakan transportasi umum, bersyukur dong rumah dekat “sarangnya” transportasi, Bandara Juanda, Terminal Bungurasih (Purabaya) dan Stasiun. Secara signifikan ada perubahan ke arah yang lebih baik untuk trasnportasi umum. Semoga dengan lebih baiknya transportasi, masyarakat bisa merawat apa yang sudah dibangun kalau dirusak. Seperti membangun cinta kita berdua, harus dirawat, jangan dirusak dengan ketidak kesetiaan dan hal – hal yang membuat sakit. Haseeeeeggg.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)