Bagaimana Caranya Menjadi Influencer yang Dilirik Brand?

wulan wu


Hanya modal follower banyak bisa pergi ke mana aja dibayarin? Hanya posting aesthetic di IG, eh dapat produk plus dibayar, emang bisa?

Wulan wu yang sudah melalang buana dalam dunia influencer, memberikan tips untuk menjadi influencer di Purbasari Infuencer Academy Surabaya. Banyak banget materi yang disampaikan, sayang banget kalau nggak ikutan acara ini yang gratiiiiiisss. Berikut ulasannya, oiyes ini tulisan sebagian besar memang dari materi Wulan wu tapi juga ada opini pribadi, kalau ada koreksi boleh komen, silakan…

Hal pertama yang dilakukan, bangun networking dengan teman – teman, nggak harus satu lingkaran, nggak harus hanya berteman dengan blogger saja, perluas pertemanan, tambah silaturahmi. Tapi selektif memilih teman, jangan yang sukanya menyebar kebencian, nyinyirin pemerintah mulu, share berita hoax, jauh – jauh deh sama yang begituan. Dengan banyak pertemanan, bisa bertukar pikiran, sumber inspirasi, kolaborasi dan masih banyak lagi.

Kita sehat sampai saat ini, tidak tahu dari doa siapa saja. Tebarkan kebaikan, kelak kita akan menuainya.



Permasalahannya, kan kita masih baru nih, brand pastinya belum kenal sama kita – kita ini yang ibaratnya butiran rengginang di kaleng khong guan, apa yang harus dilakukan?💬💭😁


purbasari influencer academy surabaya


Jangan salah, Wulan wu juga bersusah payah jadi influencer yang dikenal berbagai brand, nggak tiba – tiba langsung ditawarin ini itu, teapi mulai dari nol. Kata Mbak Wulan wu, kalau dulu sering beli produknya terlebih dahulu, kemudian foto dan upload di IG, jangan lupa untuk tag brand yang produknya dipakai untuk foto. Semacam sukarela foto produk dan review produk secara gratis.

Karena berkecimpung di dunia digital, dunia yang terus menerus mengalami perubahan, wajib hukumnya upgrade diri. Kalau dulu fotonya sebatas seadanya, sekarang harus upgrade skill, bisa editing foto, memahami komponen foto, boleh banget kalau beli property foto untuk menunjang kerjaan. Wulan wu selalu meberikan yang terbaik dan selalu ada yang baru dari Wulan wu untuk pembaca/followernya, biar nggak bosen. Yuuuk.. cusss nggak ada istilah ketinggalan untuk meningkatkan kualitas diri.


Konsisten


Sama halnya seperti blog, sosial media juga harus dirawat dengan konten dan konsisten. Wulan wu konsisten mengisi instagramnya dengan topik lifestyle, kalau lihat di feed IGnya lebih banyak fashion dan traveling, kalau di blog istilahnya niche. Dengan konsisten topik tertentu, akan mempermudah brand untuk kerjasama, bisa melihat audience kita nih rentang umurnya berapa, lebih banyak audience cowok atau cewek, demografis, dll. Lebih spesifik, akan lebih bagus. Misalnya, memiliki topik traveling, lebih spesifik lagi, traveling yang seperti apa, luxury travel, atau backpacker. 


semangat sis!


Mengapa harus spesifik? karena brand juga memiliki target market tersendiri, hotel berbintang lima tentunya tidak akan dapat kerjasama dengan backpacker, karena target marketnya high class. Menurut Wulan wu, meskipun dominan traveling, postingan instagram dia juga diselingi dengan postingan kuliner, agar followernya nggak bosen, postingan kuliner hanya sebagai penyegaran, nggak begitu mendominasi. Dan Wulan wu memiliki prinsip, kalau maksimal posting perhari adalah dua kali. Dia nggak mau lebih dari dua karena sama saja seperti spamming, nanti followernya bosen, dan semakin sering posting dalam satu hari, enggamentnya malah turun.

Posisikan dirimu influencer yang seperti apa. Mirip – mirip seperti niche blog lah yaaa..

Kalau sudah konsisten, sudah upgrade ilmu tapi kok nggak ada brand yang mengajak kerjasama? Kata Wulan wu, boleh kok influencer jemput bola, memberikan surat kerjasama dengan brand. Tetapi lihat dulu nih, udah pantas belum diajak kerjasama dengan brand, apa yang bisa kamu berikan kepada brand?
udah punya yang mana nih?


Kalau udah yakin kamu bisa memberikan value terhadap brand, boleh kok mengajak kerjasama. Tapi, yang perlu diperhatikan saat kerjasama dengan brand adalah attitudenya. Saat masih sekolah, diajarkan cara mengirim surat kan? Nggak jauh beda kirim email dengan surat – menyurat, harus sopan ya. Awal paragraf, perkenalan dulu, siapa kamu, tujuannya apa, ingin bekerjasama dalam bentuk apa, sedetail mungkin kerjasamanya seperti apa, apa value yang didapatkan jika bekerjasama dengan kamu. Kalau bisa tunjukkan portofolio prestasi kamu. Kemudian di bawah email, sebaiknya langsung ada nomor kontak yang bisa dituju, karena kalau email kan jawabannya lama, bisa langsung memberikan nomor kontak atau whastapp.

Itu kalau jemput bola, kalau ada yang menawari kerjasama, bagaimana sikap kita? Atau harus serakah dengan mengambil semua job? Mumpung ada yang mau kerjasama nih. Sebaiknya, sebagai influencer yang pastinya konsisten dengan topik tertentu, udah konsiten posting traveling eh kok nyempil iklan pembesar anuan, kan nggak sedap dipandang. Jangan asal terima kerjasama, kita sebagai influencer juga memiliki tanggung jawab moral terhadap follower, nggak apa kok kalau nolak job, sekali lagi, attitudenya dijaga, kalau tolak, menolak dengan halus jangan digantung, emangnya jemuran! Sebutkan saja alasannya, mungkin produknya tidak sesuai dengan followernya, semoga lain kali bisa bekerjasama. Tips juga dari Wulan wu, kalau membalas atau mengirim email, harus menyebutkan nama, jangan hanya “hai sis mau kerjasama nih”, sebutkan namanya, misalnya : “Terimakasih Bapak Dendi, Marketing Communication PT.X atas surat penawaran kerjasama bla bla bla bla bla…” kalau nama kita disebut kan lebih sopan, lebih akrab, lebih dihargai. Yuuk lah attitudenya dijaga.

varian baruuu


Kalau sudah ada kontrak, harus dan wajib banget mematuhi aturan, posting jangan sampai telat, berikan yang terbaik, kalau kata Wulan wu, beri bonus, misalnya di dalam kontrak disebutkan posting 2 di IG, beri bonus seperti posting di IG stories atau beri bonus 1 postingan di Feed IG. Namun, kalau kita terkena musibah, misalnya laptop atau gadget kita hilang, kebakaran, musibah apapun itu, bicarakan dengan brand, jangan tiba – tiba menghilang nggak ada kabar, brand juga memahami permasalahan yang memang di luar kendali, kuncinya komunikasi dengan baik.

Meski sudah selesai bekerjasama, tetap menjalin hubungan baik, say hi dalam email, misalnya kirim email berupa ucapan selamat hari raya idul fitri, selamat tahun baru, atau say hi secara offline. Kita kan nggak pernah tau rezeki datang dari arah mana, silaturahmi dijaga untuk menjaga hubungan baik, mungkin saja brand X ingin bekerjasama dengan kita karena attitude ataupun pribadi yang menyenangkan.

Branding yourself


Telat nggak sih kalau ingin merintis jadi influencer saat ini? Kan udah banyak banget influencer. Jangan sedih sis! Sebanyak apapun influencer di topik traveling, beauty, dll. Kita masih bisa menjadi influencer di bidang apa saja, jadilah yang beda dari yang lain, tunjukkan keunikan kamu. Banyak influencer beauty, banyak banget tutorial tentang kecantikan, jangan berkecil hati, bikin aja video tutorial yang kamu kuasai, kondisi wajah satu orang denngan lainnya pasti berbeda, meski banyak banget tutorial untuk mengurangi jerawat, tapi yang namanya jenis jerawat dan jenis kulit kan berbeda. Bikin aja tutorial cara menghilangkan jerawat untuk kulit kering tanpa rasa sakit, tampilkan sesuatu di dalam diri yang spesifik, yang unik, percayalah di luar sana ada seseorang mengalami masalah kulit yang sama dengan kamu tetapi belum ada solusinya.

Kuasai benar – benar topik yang ingin jadi branding kamu, yang jadi passion kamu. Upgrade terus ilmu yang ingin dikuasai, tapi nggak lupa untuk menjadi diri sendiri. Capek dong jadi orang lain hanya ingin diakui sebagai influencer hitz. Lebih nyaman jadi diri sendiri tapi lebih dari diri kita yang sebelumnya, usahanya harus lebih keras.

Kenapa?

Karena konsisten itu nggak mudah. Wulan wu memiliki jadwal tersendiri untuk upload. Bahkan sudah memiliki jadwal untuk posting selama satu bulan! Sudah ada rencana hari ini mau upload foto yang mana, caption seperti apa, hestek, dll. Sudahkah kita konsisten? Sudahkan kita bekerja lebih keras dari orang lain?

Duuuuhhh… kok susah yaaaa… sabar sis! Jangan jadi beban, pelan – pelan aja, posting konsisten, seminggu tiga kali, upgrade skill foto, video, cari konten yang menarik, jangan meyerah, melakukan hal yang kita suka nggak akan membuat kita bosan. Nikmati saja prosesnya.

Jadi tahu kan ya, kelihatannya kerjaan influencer kok cuma jalan – jalan trus dibayar, sesungguhnya dibalik itu semua ada banyak persiapan yang dilakukan, ada investasi berupa gadget yang mumpuni untuk menunjang kerjaan, influencer dibayar bukan untuk foto yang bagus, tapi skill mereka.

Hayuuuk ditambah lagi semangatnya…

kece badai lah yang lipmatte



Mengapa brand membutuhkan influencer?


Influencer dibutuhkan oleh brand lebih ke brand awareness, seperti purbasari, udah tahu kan lipstick matte purbasari yang viral, aku mau beli harus nunggu selama dua minggu, itu karena jadi pembicaraan di kalangan beauty blogger kemudian melebar ke mana – mana, kalau ingat purbasari, ingetnya lipstick murah meriah tapi hasilnya kece, matte yang tahan lama. Itulah gunanya influencer, untuk (((menancapkan))) sebuah nama brand tertentu di pikiran kita, kalau pengin beli lipstick, inget purbasari.

Atau bisa menggunakan jasa influencer untuk CSR suatu perusahaan, dan masih banyak lagi manfaatnya. Kalau untuk meningkatkan penjualan, bisa sih tapi kita tidak tahu meningkatnya penjualan karena influencer atau karena faktor tertentu. Biasanya brand tidak hanya menggunakan satu influencer untuk promosikan produknya dan dibutuhkan jangka waktu tertentu untuk buzzing. Influencer ibaratnya seperti iklan baliho gede di jalan raya, setiap beberapa kilometer, pastinya ada iklan yang terpampang. Nah, terjadi peningkatan penjualan apakah karena baliho yang pertama, atau baliho yang lainnya atau ada faktor tertentu kan belum tahu. Jadi lebih condong untuk brand awareness.

Banyaknya follower memang salah satu faktor untuk mendapatkan kerjasama. Kepikiran nggak sih untuk beli follower? Heiii.. mari kita menyelidiki, kalau beli follower, tapi engagement hanya seuprit, hmmm… sama juga bohong. Jangan pesimis dengan follower dikit, follower dikit tapi jangkauannya luas dan engagementnya lumayan besar, wah berbanggalah! Tapi ya tetap usaha untuk meningkatkan follower juga. Paling idaman tuh follolwer dan engagement juga tinggi. Sependek pengalamanku, setelah kerjasama, selalu diminta laporan sosial media. Itu loh yang udah punya IG bisnis, kan bisa diketahui engagementnya berapa. Laporan itu juga jadi bahan evaluasi untuk brand.

Skill ditambah lagi, dan jangan lupa untuk menjaga attitude.

Nanti kalau ada materi lagi, dilanjut next postingan, atau ada yang mau menambahkan, sila berkomentar.



0 comments

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)