Pengalaman Merasakan Perkembangan Transportasi Dari Waktu Ke Waktu

museum kereta api Bondowoso


Berawal dari kebiasaan saya yang hanya berani mengendarai sepeda motor di sekitaran perumahan, belum berani untuk melewati di jalan besar. Rasanya sudah akrab dengan transportasi umum. Dulu, istilahnya bemo, sekarang ganti menjadi angkot atau malah sekarang ada yang menyebutnya lyn (dibaca len).

Ada kalanya minder atau nggak gaul karena kemana-mana naik transportasi umum, tapi selalu mengubah pikiran kalau naik transportasi umum, berarti ikut andil untuk menyelesaikan masalah kemacetan, satu orang saja yang naik transportasi massal bisa membantu, apalagi jika sepuluh orang, seratus orang, kan jadi mengurangi macet dan otomatis pengendara di jalan juga kurang emosinya, sering lihat juga, pengendara emosi dengan cara klakson berkali-kali, padahal di depan macet banget. Klakson berkali-kali, padahal perubahan warna lampu lalu lintas dari merah ke hijau sepersekian detik, nggak sabar.

Transportasi dan Infrastruktur.


Sebagai warga Sidoarjo, kejadian lumpur Lapindo tidaklah mudah untuk dilupakan, bukan ingin membahas tragedinya, tapi dampaknya terasa sekali. Berkali-kali pemerintah daerah maupun pusat berusaha untuk memompa air (bercampur dengan unsur lainnya) kemudian dialirkan ke sungai (ada proses terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai). sering juga sampai meluber ke jalanan, jadi pengendara kendaraan pribadi atau umum, termasuk pengguna kereta api, karena ada jalur rel di Porong, kesulitan untuk Menuju ke arah Malang dan sekitarnya.

Trasnportasi dan Infrastruktur merupakan dua hal yang menunjang. Sebelum ada kejadian tersebut, memang ada rencana untuk mengadakan jalur tol Porong, namun terhenti. Prosesnya sangat lama karena butuh penanganan kusus untuk kejadian yang luar biasa. Mulai dari membuat bendungan agar tidak meluber ke jalan raya.

Rekayasa lalu lintaspun di lakukan, kadang ada buka-tutup jalan, jika musim penghujan, para pengguna jalan di arahkan ke jalan alternatif yang pastinya membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tujuan.

Saya merasakan dari awal dampak dari kejadian ini, karena saat itu masih di Malang, ingin pulang ke Sidoarjo harus menunggu berita lalu lintas, apakah daerah Porong, Gempol, sekitarnya bisa dilewati. Bisa dibilang masa-masa perjuangan, karena kejadian tersebut, ongkos bis menjadi mahal untuk ukuran saya yang saat itu masih menjadi mahasiswi. Hanya bisa bertanya-tanya, kenapa lama penanganannya.

Ternyata solusinya tidak mudah, harus mengetahui struktur tanah, pembebasan lahan untuk dijadikan jalan tol juga tidak mudah, dan masih banyak pekerjaan “rumah” yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah maupun pusat.

Sekarang, lega banget dengan pembangunan bendungan yang nampak koko, jalan tol ke arah Mojokerto, ke arah Malang, ke arah Pandaan, maupun jalan raya Surabaya-Malang, sudah mulus, banyak alternatif jalan untuk setiap warga ke kota lain di Jawa Timur.

Keamanan dan Kenyamanan yang didukung oleh fasilitas.


Bisa dibilang, tinggal di Sidoarjo membuat saya punya beragam pengalaman yang bisa diceritakan, selain infrastuktur yang memadai akan membuat pembangunan ekonomi suatu daerah akan meningkat, distribusi dari Sidoarjo atau menuju Sidoarjo menjadi lancar dan menarik perhatian investor untuk mengembangkan usahanya di Sidoarjo.

Saya termasuk orang yang setia menggunakan bis dalam kota, Surabaya - Malang. Banyak kejadian yang saya lalui, yang membuat saya setia adalah bertemu dan bercakap dengan penumpang lain saat menggunakan transportasi umum.

Sudah ada yang pernah ke Surabaya naik bis? Bungurasih atau terminal Purabaya tentu tidak asing di telinga. Masih terbayang dulu harus diantar ke Bungurasih karena banyak calo yang berebut penumpang.

Purabaya mengubah wajahnya, terminal juga sebagai wajah dari Surabaya, berubah menjadi lebih baik untuk penumpang, entah itu pendatang yang ingin mengadu nasib di Surabaya, atau warga lokal yang ingin merasakan nyaman di "rumah"nya sendiri.

Perlahan-lahan fasilitas diperbaiki, yaitu perluasan ruang tunggu penumpang yang menunggu bis antar kota, karena dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung sangat padat. Apalagi menjelang hari raya atau hari libur nasional, penuh dengan penumpang.

Tak kalah pentingnya, selain fasilitas yang menunjang kenyamanan, penertibanpun dilakukan. Pendataan kernet, diberikan rompi sebagai identitas jika mereka merupakan kernet resmi, mereka benar-benar bekerja untuk salah satu Perusahaan Otobus (PO).

Penataan semakin terlihat, sudah ada jalur tersendiri antara peron menuju bus yang ingin dituju, bus-bus yang tersedia memang layak untuk beroperasi, bss Damri yang kini ACnya lebih terasa, tampilan bisnya lebih keren, tempat duduk lebih nyaman. Halte lebih mudah dijangkau, dibuat senyaman mungkin untuk menungu bis yang akan mendatangi penumpang. Terminal Purabaya juga dilengkapi CCTV agar penumpang lebih aman untuk menggunakan transportasi massal ini.

Transportasi modern, transportasi yang mengetahui keinginan penumpang.


Kendaaraan umum setiap daerah pasti berbeda-beda dan memiliki keungulan masing-masing. Karena saya berada di Jawa Timur dan menghabiskan waktu di sana, pengalamannyapun saya seputar trasnportasi umum di Jawa Timur khususnya di Surabaya - Sidoarjo.

Selain bis dan terminal yang berubah menjadi lebih aman dan nyaman bagi penumpang. Saya juga merasakan perubahan dalam dunia kereta api, banyak yang sudah mendengar tentang perubahan tentang transportasi ini. Karena penasaran dengan pemberitaan yang ada, saya mencoba untuk jalan-jalan ke beberapa kota menggunakan kereta api yang ekonomi. Sebenarnya bukan hal asing menjadi penumpang kereta api, karena hampir setiap tahun menggunakan KA untuk pulang kampung ke Tegal. Menggunakan kelas Eksekutif, karena memang ingin mendapatkan pelayanan maksimal.

Selain itu menggunakan komuter untuk tujuan Sidoarjo-Surabaya, biasanya tujuan ke Pasar Turi, lebih cepat dan merupakan trasnportasi andalan di kota Surabaya yang macet. Namun jika tujuannya ke kota lain yang lebih jauh, jujur saja agak ragu jika memiliki kelas ekonomi, karena terlalu sering mendengar keluhan dari teman-teman yang tidak nyaman dengan fasilitas kereta ekonomi.

Untung saja ada perubahan ke arah yang lebih baik, kereta ekonomi mampu mengguli kelas eksekutif, begitu juga dengan kereta api lokal yang menjadi lebih nyaman, aman dan bersih.

Kehadiran transportasi umum bukan semata untuk mengatasi masalah kemacetan, namun tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan trasnportasi untuk segala kebutuhan masyarakat yang tertulis di PP No.74 Tahun 2014, BAB III Pasal 15 :

Pemerintah daerah kabupaten/kota wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang dalam wilayah kabupaten/kota.

Sekarangpun untuk mendapatkan segala informasi tentang departemen perhubungan maupun kementrian perhubungan bisa diakses melalui :

Web : dephub
Twitter : kemenhub151
Facebook : kemenhub151
Instagram : kemenhub151

Posting Komentar

0 Komentar