Penggunaan Antibiotik dan Kewaspadaan Resistensi Antibiotik

penggunaan antibiotik

Menghadiri acara “Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019” tahun ini mengambil tema, Masa Depan Antibiotik Seluruhnya Ada Pada Tangan Kita, diselenggarakan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Acara ini termasuk dari bagian “World Antibiotic Awareness Week”, menurut data dari WHO, Indonesia merupakan negara kedua yang aktif menyelanggarakan aktivitas kewaspadaan terhadap antibiotik.

Mengapa sih, acara ini perlu diadakan? Kita nggak menutup mata dengan keadaan di lapangan, masih banyak masyarakat yang mengkonsumsi antibiotik secara bebas, tanpa anjuran dokter, dan jika mengkonsunsi tanpa pengawasan dan secara terus menerus, akan terjadi resistensi antibiotik, mikoorganisme menjadi kebal atau tidak dapat dibunuh dengan antibiotik.

Sebelum membahas keinti permasalahan tentang resistensi antibiotik, perlu nih membahas tentang penyakit menular dan tidak menular. Acara ini dihadiri oleh internal RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Kader kesehatan puskesmas, sekolah, universitas, kader masyarakat dan blogger surabaya.

Bapak Dominicus dan Bapak Arief


Materi pertama disampaikan oleh Bapak Dominicus Husada, beliau adalah staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK Unair/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Beliau menyampaikan “Antibiotik dan Penyakit Infeksi”. Penyakit merupakan musuh manusia yang banyak memakan korban daripada peperangan maupun kelaparan. Saat ini terdapat lebih dari 10.000 penyakit dan dibedakan menjadi penyakit infeksi dan tidak infeksi, penyakit infeksi pada umumnya merupakan penyakit menular.

Penyakit infeksi disebabkan oleh masuknya mahluk hidup kecil yang menimbulkan gejala atau tanda pada tubuh yang dimasuki. Mahluk hidup kecil bisa berupa bakteri/virus/jamur/parasit.

Sejak lebih dari 30 tahun terakhir tidak ada antibitika yang benar-benar baru sedangkan mikroorganisme selalu memperbaiki diri lebih kuat daripada sebelumnya. Inilah bahayanya jika mengkonsumsi antibiotik (obat yang membunuh bakteri) tanpa anjuran dokter, lama-kelamaan tubuh akan menjadi kebal obat.

Lantas, jika penggunaan antibiotik sekarang ada pengawasannya, apakah bisa untuk meggantinya dengan obat-obatan herbal? Sebenarnya, hampir seluruh bahan yang di dalamnya berasal dari alam dengan proses yang modern. Seluruh tumbuhan, yang hidup di alam juga ada unsur kimianya, masih tahu dong air juga memiliki unsur kimia yaitu H20. jangan underestimate dulu dengan obat-obatan, boleh juga menggunakan alternatif lain untuk daya tubuh namun harus konsultasi dengan dokter, seperti yang terjadi di masyarakat, banyak yang pecaya jika jambu biji untuk pasien demam berdarah, padahal hanya mitos nih, untuk pemulihan pasien demam berdarah, bisa mengkonsumsi sari madu, atau bisa tanya-tanya terlebih dahulu ke dokter atau perawat, makanan apa saja yang boleh untuk pasien, jangan mengandalkan “kata orang”.

AMR (Anti Mikrobal Resistance) merupakan kemampuan mikroorganisme yang menyebabkan suatu untuk bertahan dari pengaruh antibiotik. AMR sendiri disebabkan oleh pengguna antibiotik yang tidak bijak dan tidak rasional dalam penggunaannya.

Penggunaan antibiotik yang diberikan atau diresepkan oleh dokter, harus dihabiskan dan tidak boleh disimpan dengan tujuan untuk berjaga-jaga kemudian hari jika sakit lagi. Jika memang sebelumnya belum tahu tentang bahayanya menggunakan antibiotik yang sisa dari pengobatan sebelumnya atau sisa dari pengobatan saudara, sebaiknya dihancurkan kemudian dibuang, jangan dibuang dalam keadaan utuh, bisa dimanfaatkan oleh oknum untuk dijual lagi atau penggunaan yang tidak bertanggung jawab. Sebenarnya dilema juga dan pemerintah masih meneliti cara memusnakan antibiotik yang tepat. Kalau ditaman di dalam tanah, unsur antibiotik dapat mersap ke dalam tanah, nanti tanamannya dapat resisten juga, kalau buang disungai, akan dikonsumsi juga oleh ikan, akhirnya bisa juga terkena resisten juga. Harus berhati-hati untuk menggunakan antibiotik.

MC, dan tak hanya seminar tapi juga ada hiburan lainnya


Antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming, yang menemukan penisilin, penemuannya ini dapat menyelamatkan korban perang dunia. Sekarang yang sering didengar adalah amoxicillin dan dalam penggunaannya banyak yang salah kaprah, batuk pilek langsung minum amoxicillin.

Antibiotik hanya digunakan bila diperlukan (untuk membunuh bakteri), belum tentu batuk pilek karena bakteri, bisa saja karena sebab lain, jangan mudah untuk mendiagnosa diri sendiri. Karena penggunaannya ada aturannya :


  • Tepat obat.
  • Tepat dosis.
  • Tepat penderita
  • Tepat indikasi
  • Waspada efek sampaing


Para dokter juga biasanya dilema loh ketika menghadapi pasien, para orangtua langsung memberikan amoxicillin kepada anak yang batuk pilek dan sembuh, ternyata beberapa hari, kambuh lagi, diberikan antibiotik lagi, sembuh, kambuh lagi, baru deh langsung dibawa ke dokter. Para orangtua biasanya berargumen jika diberikan amoxicillin saja langsung sembuh. Nah, ini pendapat yang salah kaprah, tidak sembarangan pasien harus diberikan antibiotik, dosis untuk orang dewasa dan anak-anak juga berbeda. Kebanyakan pasien yang ke dokter merupakan pasien yang sudah parah penyakitnya, dan banyak juga penanganannya terlambat karena pasien tidak segera ke dokter. Waspada juga terhadap efek samping mengkonsumsi obat tanpa anjuran dokter.


Contoh penyakit yang tidak memerlukan antibiotik :

1.Sebagian besar batuk pilek.

2.Sebagian diare.

3.Demam berdarah.

4.Campak.


Cara mudah agar tidak mudah diserang penyakit, dengan cara menjaga pola hidup yang sehat, kebersihan makanan, gizi seimbang, imunisasi, ventilasi udara di rumah juga diperhatikan, agar saluran udara berganti, sekarang ini banyak rumah ibadah maupun rumah yang tidak banyak menggunakan jendela, tertutup dan karena udara yang panas, banyak menggunakan AC, mulek ae udaranya.

materi tentang atibiotik
pemenang lomba tema kewaspadaan antibiotik (internal RSUD Dr. Soetomo)


Jika sedang batuk pilek, gunakan masker agar tidak menyebarkan penyakit ke orang lain. Selalu memperhatikan kebersihan tangan, saat membuat susu untuk bayi, selain peralatannya steril, tangan si pembuat juga harus bersih, karena bayi masih rentan penyakit. Saat menjenguk jangan lupa untuk menggunakan hand sanitizer meskipun tidak menyentuh pasien, karena di lingkungan di rumah sakit, banyak sekali lalu lalang pasien lainnya. Banyak penyakit yang belum ada obatnya, jadi dari diri sendiri harus pintar untuk menjaga kesehatan.

Penularan penyakit melalui apa saja sih? Nah, selanjutnya dokter Arief Bakhtiar dari Dept. Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Dr. Soetomo menjelaskan tentang bagaimana cara untuk terhindar dari infeksi.


Penularannya bisa melalui :

  • Penularan melalui kontak 

Kontak langusng, kulit dengan kulit.

Kontak tidak langsung, contoh : infeksi mata. Ada yang hoax juga nih kalau pasien yang terkena sakit mata nggak boleh lihat mata yang sakit, nanti ketularan, bukan seperti itu cara penularannya, bukan kontak mata dengan mata (saling menatap), melainkan jika kita dalam satu ruangan, atau lingkungan dengan penderita sakit mata, sering lupa akan kebersihan tangan, nggak menyadari, mengucek-ngucek mata dengan tangan yang kotor, penularannya melalui udara, jadi disarankan sebagai penderita mata, untuk menutup matanya yang terinfeksi agar tidak menyebar melalui udara, dan jika ada di sekelilingnya ada orang yang sehat, harus jaga kebersihan, cuci tangan dan tidak melakukan kontak dengan pasien.


  • Penularan melalui percikan/droplet.

Penularan melalui percikan partikel > 5 mikron. Seperti penderita batuk/bersin seharusnya menggunakan masker agar orang sekeliling tidak tertular.


  • Penularan melalui udara/airborne

Penularan melalui percikan partikel kecil.




Dengan gerakan SADAR (Sikap Arif dan bijak Dapat Atasi Resistensi antibiotik) diharapkan angka resistensi antibiotik akan dapat ditekan perkemabangannya. Jika seseorang telah resistensi antibiotik dan terkena infeksi, maka peluang untuk sembuh sangat kecil, dan dapat mengakibatkan kematian. Atau yang mudah diingat adalah ABC :


A : Anjuran Dokter. Menggunakan antibiotik harus dengan anjuran dokter.

B : Berbagi itu salah. Jangan menggunakan antibiotik dari sisa pengobatan yang digunakan oleh teman, saudara, orangtua siapapun itu

C : Cegah dengan mencuci tangan.

D : Dosis. Menggunakan antibiotik harus dengan dosis yang tepat, dan diminum sampai habis.



RSUD Dr.Soetomo saat ini mengembangkan Antimicrobial Stewardship Program (ASP) dengan menerapkan prinsip-prinsip penggunaan antibiotik secara bijak untuk tujuan terapi pada kasus kasus infeksi dan untuk tujuan profilaksis pada pembedahan, sehingga resistensi antimikroba dapat dikendalikan. Puskesmas jejaring dari Rumah Sakit juga diberikan penyuluhan, seperti memberikan pemahaman kepada pasien agar tidak sembarangan menggunakan antibiotik tanpa anjuran, penanganan pertama pasien yang sakit, diidentifikasi penyakitnya, memberikan dosis yang tepat.

Selain sebagai Rumah Sakit rujukan, RSUD Dr. Soetomo juga mengembangkan pelatihan dan edukasi, Layanan Surveillance & Research, Layanan Penatagunaan Antibiotik (Antibiotic Stewardship), Layanan Konsultasi dan Forum Kajian Kasus Infeksi Terintegrasi (FORKKIT).

Posting Komentar

0 Komentar