Mengontrol Pengeluaran Implusif Dengan Metode 30 Hari

mengontrol pengeluaran implusif


Apa kamu pernah membeli barang, kemudian menyesalinya? Jangan-jangan kamu termasuk seseorang yang kecenderungan implusif buyer atau pembeli implusif yaitu timbul keinginan kuat untuk membeli suatu barang secara tiba-tiba, padahal belum tentu butuh barang tersebut, atau keesokan harinya malah menyesal membeli.

Jika dibiarkan atau dimaklumi, jika setiap bulannya terjadi pengeluaran implusif, keadaan keuangan juga memengaruhi, ujung-ujungnya hanya menumpuk barang yang tidak perlu. Misalnya keinginan kuat membeli buku karena ada event pameran yang menggelar bermacam-macam diskon, padahal di rumah masih banyak buku yang masih terbungkus rapi. Atau memiliki keinginan kuat membeli skincare atau kosmetik hanya karena kemasan lucu atau belum memiliki barang tersebut, padahal di rumah masih banyak skincare dengan kandungan yang sama tergelatak manis di meja.

Jika pengeluaran implusif terjadi secara terus-menerus, dan mendapatk pemakluman, maka hanya mendapatkan kerugian. Karena sering menumpuk barang, pemilik tidak tahu jika ada tanggal kadaluarsa, belum sempat pakai tapi sudah melewati batas tanggal kadaluarsa dan akhirnya barang tersebut hanya dibuang. Setiap waktu harus menyempatkan beberapa jam untuk mengumpulkan barang yang tidak terpakai untuk diberikan ke saudara atau menggelar garage sale. Namun, seringkali memisahkan barang yang ingin dijual atau dihibahkan merasa sayang untuk dimiliki seseorang. Akhirnya membuang-buang waktu untuk mengelola barang yang tak terpakai.

Metode 30 hari.


Metode 30 hari atau bisa disebut dengan metode “Saya akan membelinya pada bulan depan (30 hari berikutnya). Sebenarnya metode ini ngetrend di akhir tahun 2006, dan merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan, yang dibutuhkan hanyalah harus menahan keinginan kuat untuk mempertimbangkan membeli barang, apakah benar-benar butuh atau hanya sekedar keinginan semu saja. Hari ini timbul dorongan yang kuat untuk membeli, siapa tahu esok harinya memiliki penyesalan “Mengapa saya membeli barang ini?”

Langkah pertama, niat yang kuat. Harus mampu menguasai pikiran yang cenderung kuat untuk membeli barang tanpa alasan yang jelas, “hanya ingin punya”, “kemasannya lucu”, “mumpung lagi diskon” dan beragam alasan lainnya. Karena dengan menerapkan metode 30 hari berikutnya, bermaksud untuk mengendalikan diri. Oke, saya akan membelinya jika pada bulan berikutnya keinginan saya masih kuat seperti hari ini.

Mengapa harus 30 hari? Dalam jangka waktu tersebut, memberikan kesempatan untuk berpikir ulang. Mungkin di rumah masih ada barang yang sama, mungkin bulan berikutnya ada produk baru yang lebih bagus dengan harga yang sama, mungkin bulan depan keinginan saya sudah memudar dan pertanda hanya lapar mata. Dengan adanya jeda waktu, maka bisa memilih dorongan ini hanya hasrat semata atau memang saya benar-benar membutuhkan.

Langkah kedua, jika keinginan kuat itu muncul, segeralah untuk meninggalkan toko tersebut. Lebih baik berpikir atau mempertimbangkan pembelian saat berada di rumah daripada berpikir saat berada di toko dan di depan barang yang ingin dibeli. Lapar mata yang berakhir untuk membeli barang tersebut.

Langkah ketiga. Catat harga dan fungsinya dari barang tersebut. Setelah selesai menulis semuanya yang diinginkan segeara cari barang yang sama di rumah. Apakah barang lain yang fungsinya sama dengan barang yang ada di toko, ternyata masih ada di rumah. Apakah manfaat atau fungsi barang sesuai dengan kebutuhan, lakukan banyak pertimbangan sebelum membeli.

Langkah terakhir jika telah melewati 30 hari dan keinginan untuk membelinya masih ada, belilah dengan rasa tanggung jawab dan barang tersebut benar bermanfaat. Lihat juga budget untuk berbelanja, apakah harga barang sesuai dengan budget yang kamu siapkan.

Mengendalikan pengeluaran implusif akan sangat membantu dalam mengatur pengeluaran setiap bulannya, apalagi jika seseorang memiliki impian membeli rumah, kendaraan, dengan memiliki penghitungan yang cermat setiap bulannya dan tidak ada kebocoran dana karena lapar mata, maka impian tersebut akan segera tercapat sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Posting Komentar

0 Komentar