Bagaimana Caranya ke Psikolog?

bagaimana caranya ke psikolog



Menuliskan postingan ini, karena tercetus sebuah pertanyaan di pikiran saya, "Di luar sana, ada nggak sih wanita yang kesulitan dalam permasalahan mental (persoalan apapun itu)?

Kemudian saya mulai menulis, mungkin saja tulisan saya bermanfaat, mungkin dengan cara ini, saya setidaknya ikut untuk membantu wanita di luar sana yang mungkin sedang mengalami kesulitan, bingung dengan langkah yang akan diambil.

Mungkin, langkah saya tidak langsung berdampak besar, mungkin postingan saya belum tentu bisa nongkrong di halaman pertama gugel. Setidaknya, saya mencoba untuk membantu, dimulai dari langkah kecil saya dengan cara menulis.

Saya menulis ini dalam bentuk pertanyaan, semoga bisa dipahami dengan jelas :


Bagaimana caranya ke psikolog?

Mungkin di beberapa kalangan, ngomongin masalah mental dan psikolog masih tabu, ada stigma negatif, dikira lemah iman, dikira manja "masalah gitu doang, harus psikolog", atau dianggap gila.

Kita sebagai penonton, tidak tahu apa seseorang sedang perjuangkan, bagaimana lelah jiwanya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi luar dalam seseorang.

Kadang kita lupa, kita hanya sebagai penonton, hanya melihat dari luar, kemudian merasa lebih banyak tahu hanya karena, "Lebih tua, lebih banyak pengalaman", lupa jika dunia ini terus mengalami perubahan, lupa jika jaman dulu dan sekarang tidak bisa dibandingkan.

Sayangi dirimu, kenali dirimu, maka orang sekitar akan merasakan ketulusan dari dirimu. Bagaimana jika ketulusan kita tidak tersampaikan pada orang lain, ya berarti "radarnya" nggak sampai, eh becanda..

Sudah biasa pro dan kontra orang lain dalam melihat apa yang kita perbuat, kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Jadilah dirimu dalam versi terbaik.


Bagaimana caranya ke psikolog?

Cara yang paling mudah adalah ke psikolog yang ada di Puskesmas, mungkin penyebutan layanan psikolog setiap daerah berbeda, tapi tujuannya sama, yaitu untuk konseling.

Jangan khawatir untuk biaya, bagi kamu pemegang kartu BPJS Kesehatan, gratis lho! Alias biaya ditanggung BPJS.

Jika di Puskesmas di daerah tidak ada layanan psikolog, langsung minta rujukan ke Rumah Sakit yang ada layanan psikolog. Namun, seringnya kalau RS hanya ada layanan psikiater.

Saya juga mengalami kesulitan, karena di puskesmas tidak ada layanan konseling, ternyata dibantu untuk rujukan ke RS. Dokter yang ada di Puskesmas bilang ke saya, nanti saat ke RS bilang saja, kalau minta ke Psikolog, bukan ke Psikiater.

Jika kamu memiliki dana lebih dan memang ingin yang berbayar. Banyak klinik konseling. Tapi lihat dulu spesialisnya. Biasanya klinik tersebut sudah memberikan rincian layanan. Misalnya, klinik A khusus untuk bimbingan khusus untuk anak dan remaja.

Sependek pengetahuan saya, jika ke Psikiater jika pasien butuh pengobatan. Tapi kalau bingung harus ke psikolog atau psikiater, kamu konsul aja ke Psikologi, kalau memang ada penanganan lebih lanjut, akan diberikan rujukan ke Psikiater.


Kapan saya harus ke Psikolog?

Saya sama seperti manusia lainnya, memiliki teman, curhat cantik, punya keluarga, cerita tentang ini itu, memiliki Tuhan, berdoa sekaligus curhat pada Tuhan. Saya melakukan hal yang seperti manusia lakukan, komunikasi dan berinteraksi, saya bagian dari masyarakat.

Namun, dalam perjalanan hidup, ada hal (atau beberapa hal) yang bisa memengaruhi psikis. Seperti trauma masa kecil, bullying, penghianatan, dan segala sesuatu yang bisa mengubah dirimu tidak seperti biasanya.

Sayangi dirimu, itu yang paling penting. Kamu tahu apa yang terjadi pada dirimu. Sejak peristiwa perpisahan yang tidak saya kehendaki, ada perubahan pada diri saya.

Kenali dirimu, jangan memendam atau mencoba melupakan, karena sewaktu-waktu jika ada hal yang me-trigger kamu, efeknya nggak hanya di dirimu kamu, tapi orang sekitar, contohnya anggota keluarga. 



Bagaimana sikap saya jika teman saya melakukan konseling ke Psikolog?

Jangan menghakimi. Kita tidak tahu bagaimana seseorang melewati hidupnya. Seseorang memutuskan untuk pergi ke Psikolog merupakan keputusan yang sangat besar, beri ia dukungan.

Masih ada pandangan negatif untuk orang yang konsultasi ke psikolog. Padahal psikologi merupakan salah satu ilmu pengetahun, sumber segala ilmu berasal dari Allah SWT, mengapa harus mengerdilkan salah satu ilmu dariNya?

Saat saya memberanikan diri konsultasi, saya beneran ikhlas jika perjalanan saya lebih lambat dari teman-teman seusia saya, nggak apa-apa kalau langkah saya terasa pelan, bahkan nggak ada progress, tapi saya harus bisa melewatinya, agar nanti saya bisa menjalani dan menikmati masa depan, agar masa lalu tidak menjadi trigger masa depan saya.

Saya berkeyakinan, konsultasi merupakan bagian dari ikhtiar saya. Saya sadar jika membutuhkan proses yang tidak sebentar, saya melalui prosesnya hadir secara utuh (setiap proses konseling, saya akan fokus bukan pikiran saya melayang).


Apa yang harus dilakukan saat ke Psikolog?

Ini berdasarkan apa yang saya lakukan. Setelah melakukan proses adminitrasi seperti pendaftaran, dll. Nantinya akan menuliskan informasi dasar, seperti ; “Apakah sebelumnya sudah pernah ke Psikolog?”, “Apa permasalahanmu?”, “Apakah ada keinginan untuk bu*nuh di*ri, dll. Isi informasi dasar dan pernyataan dengan seseungguhnya.

Kemudian akan diberi info berapa jam setiap sesinya, kemudian lanjut dengan sesi konseling. Awalnya sih ditanya tentang kabar, kemudian berlanjut pertanyaan lain sesuai dengan fokus permasalahan.

Saat awal-awal melakukan konseling, saya menangis sejadi-jadinya. Tak apa, itu merupakan sebuah proses. Perlahan-lahan, yang penting jangan mundur. Hadapi semuanya.


Apakah ke Psikolog hanya diberikan afirmasi positif?

Dulu, saya punya pikiran seperti itu, kalau ke Psikolog, paling cuma diberi afirmasi positif, harus sabar, quote yang menenangkan.


Ternyata tidak..


Saat awal-awal konseling, malah saya diperbolehkan untuk marah. Saya harus merasakan emosi apa yang saya rasakan.


Ketika saya bertanya, apakah saya harus bersikap positif? Saya tidak disuruh untuk seperti itu.


Ternyata ada tahapannya, tidak langsung tiba-tiba disuruh bersikap sabar, positif, blablabla. Semua ada prosesnya.


Ke Psikolog tuh, bukan sekedar curhat, tapi lebih dari itu. Memang prosesnya seperti curhat, tapi kita curhat ke orang yang memang berkompeten.

Meskipun saya ke Psikolog, saya tetap curhat dengan teman, tetap curhat dengan Tuhan. Namun, bedanya ke Psikolog, seperti diberikan sudut pandang yang lain, dibantu mengurai apa yang membuat kita rumit, apa yang membuat kita "sakit". Kita semakin dalam mengenal diri.

Sayapun tidak malu mengatakan jika saat proses konseling, saya mengalami “kemunduran”, ada hal yang bikin trigger. Tapi saya tidak menyerah dengan proses untuk menjadi lebih baik.

Perasaan manusia itu berlapis-lapis, jika ada yang terluka, pasti kita disuruh membuka kotak ingatan, satu lapis dibuka, kemudian lapis ingatan berikutnya dibuka, memang menyakitkan, tapi semakin membuat saya memahami diri sendiri, semakin cinta dengan diri saya.


Kapan waktu yang tepat untuk ke Psikolog?

Segera! Tubuhmu akan mengirimkan sinyal


Psikolog menangani kasus apa saja?

Banyak sih. Seperti trauma masa kecil, tentang kenakalan remaja, urusan pekerjaan, bullying, banyak kok.

Mungkin banyak yang mengabaikan karena sudah mengkerdilkan diri sendiri, “Ah masalah gini doang, ke Psikolog segala?”, “Lemah banget, gini aja curhat ke Psikolog”.

Carilah support system, membantu banget untuk kamu yang masih maju mundur ke Psikolog atau sedang ragu untuk konseling.


Tapi, jika ada orang sekitarmu yang seharusnya butuh pertolongan tapi dianya nggak mau, jangan dipaksa. Kita adalah orang lain, tidak berhak untuk menyetir apapun dalam kehidupannya. Usaha kamu, cukup memberi dukungan, misalnya memberikan waktu luang kamu untuk mendampi dia jika ia takut ke psikolog.

Memang lebih baik ke psikolog atas dasar niat dari diri sendiri, kalau dipaksa, seringnya udah apatis sama psikolognya, mudah menyerah, dll. Pelan-pelan aja beri pemahaman, jangan dipaksa.

Saya tahu jika butuh pertolongan karena tubuh saya mengirimkan sinyal (bisa dibaca postingan sebelumnya, klik aja labels self love), sinyal berupa perubahan secara emosi dan fisik.

Saya menyadari dirinya saya terluka, jika saya mengabaikan luka yang saya alami, membiarkan begitu saja. Saya merasa tidak bergerak ke mana-mana, berputar-putar dengan luka, mungkin nanti akan berdampak pada orang sekitar yang menyanyangi saya.

Kita adalah jiwa-jiwa yang indah, makhluk ciptanNya yang penuh cinta ketika dilahirkan. Kamu berharga, kamu indah, kamu berhak dicintai dan mencintai. Loveđź’“

0 comments

Posting Komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)