Mengapa Saya Konseling?




Saya memiliki buku yang berjudul “I Want To Die But I Want To Eat Tteopokki”. secara garis besar bukunya menceritakan perjalanan si penulis saat melakukan konseling. Buku tersebut sudah lama saya miliki dan sempat membaca, kemudian saya baca ulang, malah tercetus ingin mendokumentasikan perjalanan konseling yang saya jalan saat ini.

Meskipun permasalahan si penulis tentu lebih berat dan kompleks daripada saya. Namun, tujuan saya bukan membandingkan saya dan si penulis tersebut. Ingin menulis “perjalanan” konseling ke psikolog, bagaimana perubahan yang terjadi pada diri saya.

Tapi, bedanya jika di buku tersebut ditulis secara blak-blakan pertanyaan ketika konseling, saya masih belum nyaman membuka secara gamblang, “Apa saja pertanyaan yang diajukan”, “Bagaimana sesi yang dilakukan dari awal hingga akhir”. 


Kok bisa, Sar?

Saya kira semua baik-baik saja, sesuai rencana karena saya fokus menjalankan salah satu komunitas (atau bisa disebut grup belajar). ternyata tidak berjalan dengan semestinya.

Tiba-tiba saja harus melepaskan tanpa saya kehendaki, dengan alasan dijodohkan (namun dia mengaku di depan keluarganya hanya dikenalkan dengan seorang wanita oleh keluarga jauhnya, padahal statusnya masih dengan saya).

Tidak sampai di situ, ternyata di belakang saya, nama baik saya dijatuhkan di depan keluarganya, dijelekan mengarah ke fitnah. Saya mendapatkan kabar dari salah satu anggota keluarganya, saya beneran shock. Keputusan sepihak masih membuat hati saya terluka, ternyata ditambah lagi dengan nama baik saya yang dijatuhkan.

Saya mencoba berpikir jernih dengan cara klarifikasi, mengapa dia seperti itu? Tapi jawaban yang saya terima hanyalah tuduhan yang kasar.

Jika sudah bosan dengan saya, jika ingin menikahi wanita lain, mengapa nama saya dijatuhkan di depan keluarga besarnya? Mengapa menghalalkan segala cara termasuk mempertaruhkan nama saya?

Apakah karena saya jauh, keputusan sepihak yang diberikan membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berkutik ketika nama saya seenaknya dijelekin, dan hanya bisa (terpaksa) menerima segala keputusan yang ia mau?

Apakah dia lupa jika saya bisa berdoa? Berdoa dengan segala rasa sakit hati yang saya terima atas perlakuannya. Berdoa tidak memandang jarak, bukan?

Tapi… saya berdoa untuk kebaikan saya, bukan untuk sumpah serapah masa lalu.

Padahal salah satu keluarganya yang membela saya sampai minta maaf ke saya, padahal salah satu anggota keluarganya tidak ada salah ke saya. Malah lelaki tersebut yang menyakiti saya, tidak ada kata maaf hingga sekarang, dan saya tidak berharap perkataan maaf dari dirinya.


Mengapa putus cinta bisa membuatmu konseling?

Bukan putus cintanya, tapi prosesnya. Semua keputusan tidak ada yang saya kehendaki tapi saya dipaksa untuk menerima. Kejadian demi kejadian yang menimpa saya, membuat pertahanan saya lemah, mental saya tidak sekuat itu.

Akhirnya terjadi perubahan dalam diri saya, secara mental maupun fisik (sulit tidur, mual dan muntah), beberapa teman mengetahui perubahan yang saya alami. Untuk rincian apa perubahan secara mental tidak saya tulis di blog, karena saya lebih terbuka ke psikolog saya.

Menghindari juga menganggap ciri-ciri perubahan mental yang saya alami nantinya digeneralisasikan sebagai depresi atau sebagainya. Jangan self diagnose ya, lebih baik langsung ke ahlinya saja, dan tidak mudah untuk mediagnosis seseorang depresi atau tidak, sayapun belum diagnosis apa-apa karena saya masih dalam proses konseling.

Saya merasa perubahan yang ada pada diri, bukan diri saya yang sebenarnya, itu bukan saya. Sari nggak kayak gini. Saya merasa perubahan ini akan memperburuk saya, dan saya tidak mau dampak emosi yang tidak stabil akan kena pada orang di sekitar saya.


Waktu tidak bisa menghilangkan luka, hanya mampu melupakan. Ketika ada satu hal sebagai pelatuk akan mengingat masa lalu, diri saya akan down. 


Saya tidak ingin diri saya larut dalam luka, saya ingin menyelamatkan diri saya. Mengapa orang yang saya cintai, tiba-tiba menjatuhkan nama saya di depan keluarganya, padahal saya tidak melakukan hal yang ia sebutkan. Saya harus terpaksa merelakan perpisahan, ditambah lagi dengan fitnah.

Reaksi dari tubuh dan pikiran saya tidak seperti biasanya. Saya butuh pertolongan. Untung masih ada teman-teman dan keluarga. Entah bagaimana saya harus bercerita, saya terharu dengan pertolongan dari arah yang tak terhingga. Saya bersyukur. Saya berharga di depan keluarga, di depan teman-teman saya.

Tak henti-hentinya, berterimakasih pada semua yang selalu di samping saya, apapun perubahan yang saya alami, saya ternyata tidak sendiri, meski tubuh dan pikiran terasa ditelantarkan, dibuang, entah pikiran negatif apa lainnya, hingga membuat saya menyelahkan diri sendiri, jika ini terjadi, teman-teman selalu menghalangi saya untuk berpikiran buruk.


Apa tidak capek melakukan konseling?


Capek, banget. Apalagi saat sesi dimulai selalu diberikan pertanyaan yang menyangkut masa lalu, saya masih terus-menerus nangis. Rasanya ingin menghilang saja atau melupakan, anggap nggak pernah terjadi.

Tapi, setelah dipikir, melupakan atau mungkin mengabaikan, bukan solusi yang terbaik untuk permasalahan saya. Setidaknya saya harus berani melewati jalan untuk kembali pulih.

Saya berusaha untuk mengendalikan diri, jika saatnya konseling, saya harus memusatkan diri dan pikiran saya untuk konseling, tidak khawatir akan hal lain, atau pikiran bercabang ke pekerjaan atau yang lain. Kalau mau nangis, ya silakan, agar terasa lebih lega.

Setelah konseling, saya harus totalitas untuk fokus dalam menyelesaikan pekerjaan, dan beraktivitas sehari-hari.

Setelah konseling juga agak lebih baik meskipun masih up and down, kadang semangat, kadang down, tapi saya harus mencintai setiap prosesnya agar tidak ada trauma dalam diri saya.

Kamu tahu, jika dinding dipukul dengan palu, pasti akan retak. Pasti pemilik rumah akan segera memperbaiki dinding tersebut. Meskipun telah diperbaiki tapi tidak bisa kembali seperti semula. Pemilik juga akan selalu ingat jika di dinding tersebut ada retakan.
Setidaknya si pemilik rumah ingin dinding tersebut lebih baik daripada membiarkan retak yang semakin melebar. Mungkin nanti, dinding tersebut dilapisi cat warna yang cerah.


Apakah saya belum bisa move on?

Justru saya konseling, karena saya move on.

Jika sakit gigi, tentu harus ke dokter gigi, bukan meminium bermacam-macam obat yang belum tentu bisa menyembuhkan.

Nikmati saja prosesnya, karena inilah jalan hidup saya yang harus saya lalui. Saya tetap terus berdoa, dan konseling ini sebagai bentuk untuk ikhtiar.

Saya dilahirkan dalam bentuk yang sempurna, dalam balutan cinta dan kebahagiaan. Ini bentuk ikhtiar saya, jika nanti saya akan "dipanggil" olehNya, saya menjadi manusia yang penuh cinta dan kebahagiaan.



Mengapa tidak ikhlas saja?

Entah saya sudah ikhlas atau belum, tapi terlalu rumit jika harus ikhlas, sementara jiwa dan raga saya disakiti. Saaya sudah menerima apa yang terjadi pada diri saya, dan saya bergerak untuk menyembuhkan apa yang membuat saya sakit.



Apakah doa tidak cukup?

Insya Allah saya selalu bersyukur, diberi kesehatan (tidak pernah ada keinginan bu*nuh di*ri), diberikan keluarga dan teman yang selalu support saya. Namun, permasalahan mental manusia sangat kompleks.

Konseling bukan karena tidak bersyukur, konseling bukan karena tidak percaya kekuatan doa. Bagi saya, konseling merupakan ikhtiar saya untuk pulih.

Saya diciptakan di dunia ini dengan penuh cinta dan kasih sayang. Saya ingin kembali untuk menghadap kepadaNya dengan jiwa yang penuh cinta juga. (jawabannya sama dengan di atas ya).



Apa kamu nggak takut jika seseorang ingin mendekat ke kamu malah mundur karena kamu konseling ke psikolog?

Kenapa harus takut, kenapa harus malu dengan keadaan diri. Bagi saya, ke psikolog yaa seperti orang sakit batuk pergi ke dokter, hanya saja penanganannya berbeda.

Jika ada laki-laki yang ingin mendekati saya, malah mundur karena membaca postingan ini atau mengetahui aktivitas saya sekarang. Ya sudah, tidak memaksa kehendak orang lain. Mengapa harus menahan seseorang yang tidak ingin di samping saya.

Saya tahu, jika stigma ke psikolog masih negatif, tak apalah, semua tidak harus sama persepsi. Selalu akan ada pro dan kontra. Saya tidak memaksa untuk sepahaman.

Saya yang mencintai diri saya, saya yang tahu apa yang saya butuhkan. Konseling merupakan ikhtiar saya agar tidak ada trauma.

Saya tidak ingin orang yang di sekitar saya mengalami dampak akan perubahan saya. Maka saya cari pertolongan.

Saya ingin menjalani hubungan baru dengan laki-laki baru, saya ingin mencintai dan dicintai, saya ingin percaya dan dipercaya. Hal yang sederhana, tapi saya masih dalam proses untuk bisa menghadapi masa depan yang lebih baik, tidak ingin masa lalu menjadi kerikil yang menyakitkan ketika saya berjalan.

Menulis hal ini sebagai dokumentasi bagaimana perjalanan diri saya dari waktu ke waktu (progress) saat melakukan konseling. 

Tulisan ini bukan menjadi salah satu "spoiler" tentang langkah atau tahapan konseling, karena penanganan setiap permasalahan akan berbeda. Jika kamu merasa butuh bantuan, segera ke psikolog, jangan self diagnose. Blogpost selanjutnya, bagaimana caranya ke psikolog, gratis atau berbayar. Tunggu ya. Love.

1 komentar

  1. Peluk jauuuh.. 🥺🥺 InsyaAllah, akan dapat gantinya yang jauh lebih baik. Kamu berhak bahagia, mbak ♥️♥️♥️♥️

    BalasHapus

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)
EmoticonEmoticon