Definisi Bahagia

definisi bahagia



Apa itu bahagia?

Dapat duit 1 Milyar?

Menikah dengan orang tercinta?

Dapat kendaraan idaman?

Cicilan rumah sudah lunas?


Apa yang membuatmu bahagia? Tidak mencari pendapat siapa yang salah maupun yang benar, jika salah satu pilihan di atas bisa membuatmu bahagia, itu tidak salah, setiap orang memiliki prespektif tersendiri tentang bahagia.

Banyak hal yang saya lalui (termasuk kamu), membuat saya berpendapat jika bahagia itu tentang dua hal :

Tentang apa yang kita inginkan,

Tentang apa yang telah kita miliki.

Atau bisa jadi begini,

Bahagia itu bisa dijadikan tujuan,

Bahagia itu suatu proses.


Misalnya begini, saya bahagia jika saya menikah dengan kekasih saya, merupakan tujuan.

Saya ingin juara 1 pada perlombaan renang, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan, tapi saya tetap menyukai renang karena membuat saya bahagia akan suatu perjuangan, membuat saya berubah menjadi orang yang lebih disiplin, lebih sehat dan sebagainya.

Beberapa definisi bahagia dari buku yang saya baca.

Beberapa buku yang saya baca, ada bab tentang kebahagiaan, berikut beberapa sumber yang saya rangkum dengan bahasa sendiri, jika ada ketidakcocokan pemahaman, maafkan. Bisa lanjut baca secara utuh bukunya.


Mark Manson - Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.

Jangan mengharapkan suatu kehidupan yang bebas dari masalah. Tidak ada hal seperti itu. Sebaliknya, berharaplah akan hidup yang penuh dengan masalah-masalah yang baik.

Masalah tidak pernah berhenti, mereka hanya datang silih berganti. Permasalahan yang dihadapi tingkatannya bisa sama seperti masalah sebelumnya, atau permasalahan bisa meningkat.

Menurut Mark Manson, kebahagiaan datang dari keberhasilan untuk memecahkan masalah. Bukan menghindari masalah, tapi memecahkannya.

Berarti kebahagiaan itu merupakan suatu tindakan, bukan sesuatu yang diberikan oleh kita.

Jika kamu menghadapi masalah A kemudian menemukan solusinya, kamu akan bahagian, namun kita akan selalu menghadapi permasalahan semasa hidup kita, konstan.

Kebahagiaan yang sejati akan terwujud hanya jika ketika kamu menemukan masalah, kamu menikmatinya dan menikmati proses pemecahannya.

Jackson Mackenzie - Kembali pulih

Lain halnya yang diutarakan oleh Jackshon Mackenzie, dalam bukunya yang berjudul Kembali Pulih (Menyembuhkan hati dan menemukan kembali jati diri dari hubungan yang tak sehat dan luka emosional).

Bahagia di lingkup ego dan percintaan, bagaimana seseorang mulai membuka diri setelah gagal menjalin hubungan.

Seseorang yang gagal dalam menjalani hubungan, biasanya berkata “Yang kuinginkan hanyalah cinta”.

Manusia memiliki pribadi yang rumit, bisa jadi cinta yang mereka inginkan bukanlah cinta yang sebenarnya, melainkan kepastian akan selalu mendapatkan pujian dan perhatian. Ingin mendapatkan pengakuan bahwa mereka berharga di mata orang lain.

Hal seperti itu tidak akan pernah merasa cukup dengan dicintai, bisa jadi hal tersebut bukan cinta melainkan obsesi dan nafsu, namun dalam alam bawa sadar mereka percaya bahwa orang lain adalah solusi yang dapat mengisi kekosongan dan kehampaan mereka.

Itu semua tentang ego, untuk mengetahui cinta yang sebenarnya, kita harus menekan ego yang sudah terlalu tinggi. Jika berhasil, kamu akan merasakan sesuatu yang lebih baik pada perasaan, hati dan dirimu yang sebenarnya.

Ketika perasaan yang sudah lama terkubur kemudian mulai muncul lagi, mungkin kamu akan merasa tidak nyaman atau tidak menyenangkan, karena muncul perasaan seperti kurang, marah, cemburu, ditolak, ragu pada diri sendiri dan merasa malu. Jangan hindari perasaan itu, tapi terimalah.

Semakin menerima, perlahan akan menemukan bagian dari hati kita yang semakin lembut, kita akan selalu berusaha menerima perasaan itu yang termasuk dalam diri kita. Meskipun masih ada perasaan sakit dalam hati, kamu mulai beryukur dan merasa bahagia, seperti bisa bernapas kembali.

Menerima diri sendiri sebelum memberikannya untuk orang lain. Melewati setiap proses pendewasaan perlahan akan merasakan cinta yang sebenernya.

buku mental health




Apa definisi bahagia menurut saya?

Untuk saat ini, bahagia menurut saya adalah menerima dan mengikhlaskan, setelah melakukan kedua hal tersebut saya merasakan bahagia dengan prespektif yang berbeda. Kadang, manusia ingin melihat apa yang ingin dia lihat, tanpa disadari melewatkan hal-hal kecil di sekelilingnya.

Saya seperti manusia yang lainnya, memiliki impian, memiliki target, memiliki tujuan, atau memiliki ambisi.

Umur 20tahunan memiliki banyak impian yang ingin diraih, pengin liburan ke sana, kemari. ternyata orang tua termasuk yang protektif, sempat "berontak", berasa beda gitu, mbakku yang anak pertama, boleh jalan-jalan, aku nggak boleh ke mana-mana.

Bahkan nih, mau ke Bungurasih untuk naik bis ke Malang, masih diantar sama Bapak, padahal udah aku bilang kalau aku bisa sendirian ke Bungurasih.

Kalau diingat malah bikin ketawa, tapi kalau di saat itu, berada di posisi saat itu, pusing pengin ngomel aja bawaannya.

Dapat tawaran kerja di luar kota, tapi nggak dibolehin. Selang beberapa kerja di lokasi yang lumayan dekat. Beberapa waktu kemudian, Mama mulai menunjukkan fisik yang mulai gampang sakit, awalnya rutin periksa ke dokter, lama-kelamaan ternyata bolak-balik ke rumah sakit.

Ternyata usia 20tahunan dihabiskan waktu bolak-balik, rumah sakait- rumah. Secara logika, kalau sakit pasti pengin sembuh, apalagi udah menyiapkan rencana pengin ke Jogja, eh ternyata takdir berkata lain.

Rasanya kepala mau meledak, serangkaian kejadian nggak pernah masuk di logika (saat itu).

Sepeninggal Mama, ternyata Bapak harus operasi, beberapa saat yang lalu (puasa Ramadan) ternyata Bapak punya sakit jantung, dan harus rajin kontrol, karena pandemi yang semakin menggila, hanya diberi obat-obat saja, kontrolnya masih pending.

Menerima dan mengikhlaskan tidak pernah mudah, untungnya saya memiliki teman dan anggota keluarga yang baik dan support, saya tidak merasa sendiri untuk melewati proses, meskipun saya harus berjuang sendiri, kalau bukan kita yang harus tangguh, nggak mungkin harus menggantungkan pada orang lain melulu.

Banyak hal yang tidak sesuai target, logika makin meronta-ronta. Saya menerima jika orang tercinta tidak ada lagi di dunia, saya harus mengikhlaskan agar jalan saya terasa untuk melanjutkan masa depan. Sesederhana itu, tapi pergumulan hati yang nggak biasa, terus-menerus bertanya, kenapa kok begini, udah habis banyak pengorbanan, apa yang salah dengan kami, dan masih banyak pertanyaan yang mengendap di pikiran.

Menerima dan mengikhlaskan untuk merasa bahagia, bukan bahagia yang bebannya sudah tidak ada lagi, orang tua tidak pernah saya anggap sebagai beban. Bahagia yang saya rasakan karena saya masih bisa diberikan waktu untuk menemani Mama, menyuapi Mama, ngobrol ringan, hingga saya mengikuti seluruh ktahapan memandikan jenazah, hingga mengantar mama ke peristirahatan terakhir. 

Akan ada hal yang tak disangka-sangka dari arah yang tak terduga, meskipun kebahagiaan bernilai kecil di mata orang lain, tapiiiii heeeiiii tidak ada yang berhak menilai hidupmu! Karena kamu akan selalu berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang kamu perjuangkan.

0 comments

Posting Komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)