Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semua Bagian Bisa Dimanfaatkan! Tanaman Ini Serba Bisa.

Produk olahan dari Mangrove

Raja ampat masih menjadi urutan pertama liburan impianku, pesona laut yang indah menjadi keinginan kuat untuk menyelaminya.

Ternyata pengetahuan akan Raja ampat sebatas turis lokal yang sekedar berlibur saja, padahal jika diulik lebih lanjut, banyak kearifan lokal yang bisa diteladani.

Cukup beruntung bisa mengikuti webinar tentang, "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat", bersama teman-teman Eco bloggers, dan juga pemateri yaitu Bapak Daniel Kbarek (Program officer TAF) dan Bapak Steve (Program manager PKPRA).

Bagi masyarakat pesisir di Raja Ampat, khususnya di Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser (Pulau Gam, Selat Dampier), mangrove bukan sekadar pepohonan hijau di tepi pantai. Mangrove memiliki banyak manfaat seperti, tempat tinggal biota laut, sekaligus benteng alami dari bahaya erosi dan perubahan iklim, serta menjadi sumber pangan masyarakat.

hutan mangrove bukan sekadar bentangan pepohonan di wilayah pesisir, melainkan ruang hidup, sumber penghidupan utama, serta warisan tradisi yang menopang keberlanjutan hidup mereka dari generasi ke generasi.

Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa ekosistem mangrove sangat krusial bagi masyarakat adat Raja Ampat;

  1.  Rumah bagi biota laut: Akar-akar mangrove menjadi tempat pemijahan, perlindungan, dan pembesaran bagi biota laut seperti ikan karang, kepiting bakau (Scylla spp.), udang, dan berbagai jenis kerang (seperti kerang darah dan kerang tiram). Hasil laut non-ikan ini menjadi pasokan protein hewani harian yang sangat diandalkan masyarakat pesisir.
  2. Bahan Pangan Lokal Non-Beras: Buah mangrove dari jenis Bruguiera (lindur/aibon) dan Sonneratia (pedada) diolah secara tradisional maupun inovatif menjadi tepung alternatif, sirup, selai, hingga camilan bergizi yang memperkuat ketahanan pangan keluarga.
  3. Garis Depan Aktivitas Perempuan: Sekitar 90% perempuan pesisir di kampung-kampung adat (seperti Kampung Friwen dan Yenbeser) menggantungkan hidup mereka pada mangrove. Mereka memanfaatkan mangrove untuk mencari kerang, mengumpulkan tanaman obat (etnobotani), mengambil daun pandan untuk anyaman tikar/noken, hingga berkebun.
  4. Kemandirian Ekonomi: Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), para perempuan mengolah hasil mangrove menjadi produk bernilai jual (tepung, sabun, kerajinan tangan, dan makanan) yang dijual ke wisatawan dan homestay setempat.
  5. Benteng Alami Pesisir: Mangrove meredam gelombang laut tinggi, mencegah abrasi pantai, serta menahan intrusi air laut ke dalam sumber air bersih dan lahan pertanian warga.
  6. Penyaring Kualitas Air: Akar mangrove menyaring sedimen dan polutan sehingga air laut tetap jernih. Kejernihan ini sangat dibutuhkan oleh ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang menjadi pusat keanekaragaman hayati laut Raja Ampat.
Meskipun memiliki potensi ekonomi yang luar biasa, ekosistem mangrove di Raja ampat memiliki ancaman yang besar, seperti:

  1. Degradasi dan kerusakan mangrove: Pembangunan fasilitas pariwisata seperti homestay dan resort memicu penebangan pohon mangrove secara tidak terkendali untuk kebutuhan kayu bangunan. Sebagai contoh, pada Hutan Mangrove Doredor, tingkat kerusakan pernah mencapai 57% (sekitar 133 hektar dari total 233 hektar) akibat eksploitasi kayu pasokan industri wisata.
  2. Dampak perubahan iklim: Peningkatan suhu air laut, kenaikan permukaan air laut, dan cuaca ekstrem mengancam area pemijahan ikan. Abrasi pantai dan intrusi air laut ke sumber air bersih warga juga semakin meningkat.
  3. Ancaman penurunan panganan lokal: Rusaknya habitat mangrove berdampak langsung pada penurunan jumlah ikan, kepiting, dan kerang. Hal ini mengancam asupan nutrisi warga pesisir serta menurunkan pendapatan nelayan dan pedagang lokal.
Pemateri webinar


Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan langkah terpadu yang memadukan legalitas hukum, keterlibatan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi.

  1. Penguatan Legalitas Lewat Skema Hutan Desa: Masyarakat Kampung Friwen berjuang mendapatkan kepastian hukum pengelolaan hutan melalui skema Hutan Desa. Dengan terbitnya izin Hutan Desa seluas 1.025 hektar dari KLHK, kawasan hutan dibagi menjadi ruang lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan berbasis konservasi. Skema ini memberikan hak legal bagi warga untuk menjaga sekaligus memanfaatkan hutan secara bijak.
  2. Menerapkan kembali kearifan lokal Sasi, yaitu aturan adat yang melarang pengambilan hasil laut dan hutan di kawasan tertentu selama periode waktu tertentu. Aturan ini memberi kesempatan bagi ekosistem dan biota laut untuk memulihkan diri secara alami.
  3. Masyarakat bersama kelompok tani dan kelompok perempuan melakukan pembibitan, penyemaian, dan penanaman kembali bibit mangrove lokal di area yang rusak, serta rutin melakukan patroli perlindungan kawasan.
  4. Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), para perempuan dilatih mengolah buah mangrove menjadi tepung, kue, dan sabun, serta menghasilkan kerajinan tangan dan minyak kelapa (VCO). Produk olahan ini tidak hanya memperkuat cadangan pangan keluarga tetapi juga dijual ke homestay dan wisatawan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga.
  5. Membangun jalur tracking mangrove dan paket wisata edukasi yang mengenalkan keindahan alam tanpa merusaknya, sehingga pariwisata berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Menjaga mangrove di Raja Ampat pada akhirnya bukan cuma soal menyelamatkan pohon, tapi tentang menjaga kehidupan, pangan, dan masa depan manusia di dalamnya.

Oktober ini, berbagai solusi untuk menghadapi perubahan iklim akan dibicarakan dalam Bangkok Climate Action Week. Namun, solusi tidak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal. Salah satunya dilakukan oleh Mama Agustina di Papua Barat.

Menikmati keindahan harus disertai dengan tanggungjawab. Jika ingin menikmati keindahan Raja ampat, sebaiknya tidak melakukan tindakan ilegal yang bisa merusak keseimbangan alam, dan taati adat yang berlaku.

Pohon pisang bisa dimanfaatkan semua bagiannya


Semakin mengenal ekosistem mangrove semakin menyadari ternyata alam memberikan kita lebih dari cukup. Hal ini membuat saya lebih peka terhadap panganan lokal di sekitar.

Ternyata warga sekitar rumah banyak yang menanam pohon pisang. Beberapa langkah, sudah ada pekarangan pohon pisang. Tanaman ini sangat mudah tumbuh di iklim tropis, mulai dari daun hingga batang bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.

Tidak heran jika pohon pisang memiliki manfaat ganda, seperti;

  1. Menjaga Kelembapan & Penyimpan Air: Batang pisang (gedebog) memiliki struktur berongga yang mampu menyimpan kandungan air dalam jumlah sangat besar. Ini membantu menjaga kelembapan tanah di sekitarnya serta menjaga ketersediaan air tanah saat musim kemarau.
  2. Penyubur Tanah Alami & Media Tanam: Batang dan pelepah pisang yang membusuk kaya akan bahan organik, kalium, dan pati yang bagus untuk dijadikan kompos alami maupun media tanam tanpa perlu pupuk kimia berlebih.
  3. Pengganti Plastik Ramah Lingkungan: Daun pisang sejak dulu menjadi pembungkus makanan alami yang mudah terurai (biodegradable), mengurangi ketergantungan masyarakat pada sampah plastik sekali pakai.
  4. Tidak seperti tanaman pangan lain yang butuh musim tertentu, pohon pisang bisa tumbuh dan berbuah sepanjang tahun.
  5. Semua bagian bisa dimanfaatkan: Buah Pisang: Kaya akan kalium, serat, dan karbohidrat yang bisa dikonsumsi langsung atau diolah jadi tepung pisang, keripik, dan olahan berdaya simpan lama.Jantung Pisang (Ontong): Kaya serat dan nutrisi, biasa diolah warga menjadi tumisan, gulai, atau abon nabati yang lezat.  Batang Muda (Ares): Di berbagai daerah tropis dan tradisional, bagian dalam batang pisang muda dimanfaatkan sebagai bahan sayuran berkuah yang segar dan bernutrisi.
Pohon pisang relatif tahan terhadap variasi cuaca ekstrem dibanding tanaman pangan sensitif lainnya, menjadikannya pilihan tepat untuk menjaga ketersediaan pangan keluarga secara mandiri di pekarangan rumah.


Posting Komentar untuk "Semua Bagian Bisa Dimanfaatkan! Tanaman Ini Serba Bisa."