Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, Agustus 30, 2015

Pempek seuprit

Pempek seuprit bukan sebuah nama, tapi rasa kecewa. Jadi cerita masih liburan di Tegal, masih ada waktu buat ngemall, nggak nyebutin mall dan tempt makannya, takut nanti dirasani yang jual, hehehehe. Mall masih terbilang baru dan letaknya sedikit jauh dari mall kebanyakan di Tegal. Tapi, percaya deh, kemanapun pergi untuk jalan - jalan ke Tegal, pasti mengandalkan yang namanya becak. Abang becaknya mau loh nganter yang lumayan jauh, ya daripada naik angkot tapi nggak tau jurusan, mending naik becak. Eh, tapi udah diberitahu deh sama Tante kalau naik angkot pakai jurusan yang mana, tetep aja mengandalkan becak.

Niatnya hanya window shopping, nggak niat beli apa - apa, eh tetetp aja beli ini itu. Setelah capek belanja, pergi deh ke foodcourt, sebenarnya ada resto cepat saji. Tapi kesannya kok di Surabaya udah blenger yang namanya resto cepat saji. Setelah berada di foodcourt, ternyata masih sepi. Bayangannya mau beli makanan yang khas, ternyata banyak yang belum buka, ya udah pilih cemilan aja. Kalau cemilan kan cepat, nggak perlu nunggu, karena gerai yang di foodcourt masih beres - beres.

Akhirnya, tertambat di pempek palembang. Nggak sampai lima belas menit sudah tersajai. Daaaan, omaigat rasanya hatiku tertusuk, sakiiiiiit kalau pempeknya cuma segitu. Apa daya, aku pembeli yang bawel, tapi bawelnya lewat tulisan. Sudah menjadi rahasia umum, kalau jualan di mall pasti harganya relatif lebih mahal ketimbang jualan di badan jalan. Tapi, mbok ya kualitasnya itu yang yahud. Rasanya ya standar dan biasa saja. Percaya deh, kalau bumbunya entah itu yang kuah atau pempek lebih nendang, pasti banyak pembeli yang balik plus rekomendasikan dari mulut ke mulut. Kurang puas dengan pempek ini, karena aku sudah pernah makan pempek yang di Mall, letaknya d Surabaya. Harganya aku akui beneran mahal, dua puluh ribu lebih untuk satu pempek (entah itu pempek lonjor atau kapal selam) tapiiiii huwaaaaa rasanya mantap dan setiap mau beli pempek yang di Surabay itu pasti antri.

Gimanya ya, namanya juga pempek itu khas dengan rasa ikannya yang nggak nanggung dan kuahnya yang bikin seger, jadi kalau hanyak biasa saja, rasanya kok ya cuma numpang lewat doang di perut. Mungkin yang pempek seuprit ini biasa saja, karena menekan biaya operasional atau apalah, tapi namanya berbisnis di dunia kuliner pastinya yang dinomorsatukan ya rasanya. Kalau begini kan, aku nggak merekomendasikan ke teman - teman. Daripada nanti teman - teman kecewa, hehehehe.

Ya sudah lah ya, pempeknya bikin galau.


2 komentar:

  1. Di kota saya becak masih banyak, tapi utk keliling2 skrg ini kebanyakan org menggunakan motor. Jadi motor di sini lebih mendominasi

    BalasHapus
  2. nambah lagi hehhee, aku gak bisa makan pempek sedikit

    BalasHapus

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)