5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berinvestasi

investasi yuk!


5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Berinvestasi. Tidak ada istilah terlambat jika ingin membenahi diri, menjadi lebih baik untuk masa depan, tidak terkecuali untuk membenahi keuangan pribadi maupun keluarga.

Jika setiap tahun merasa gagal untuk mengatur pendapatan, selalu memiliki keinginan untuk ambil sedikit demi sedikit uang yang ada di ATM, tapi telah memiliki kesadaran agar uang tidak habis begitu saja, dan mulai memiliki keinginan untuk berinvestasi, tapi masih ragu akan kemampuan. Hal pertama yang dilakukan adalah niat untuk berubah, mengelola keuangan untuk lebih baik setiap harinya. Selanjutnya, dapat melakukan 5 hal yang harus dipersiapkan sebelum berinvestasi :


Tujuan Berinvestasi


Tujuan berinvestasi merupakan hal yang mendasar sebelum menentukan ingin berinvestasi di mana. Agar tidak ada niatan untuk “melirik” duit yang akan diinvestasikan, tidak ada pemikiran “Ah, masih awal tahun, duitnya untuk beli baju”, “Ah, masih banyak duitnya, nanti aja deh investasi, sekaligus banyak”, dan akhirnya nggak jadi investasi.

Memang sekarang sangat mudah untuk berinvestasi, mulai dari 10ribu rupiah sudah bisa investasi reksadana, pengin memiliki emas, bisa nabung emas. Pembelian maupun penjualan bisa dilakukan dengan masa tunggu beberapa hari. Jadi, memang perlu banget menentukan tujuan berinvestasi, sesuai dengan kebutuhan.

Dengan menentukan tujuan, selanjutnya dapat menentukan produk investasi yang akan dibeli. Tujuan untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, jangka pendek, 2 tahun lagi ingin liburan ke Korea, sedangkan untuk jangka panjang, 7 tahun lagi untuk dana pendidikan atau untuk persiapan anak masuk sekolah.

Semakin detail tujuan berinvestasi, sangat membantu untuk mengelola keuangan pribadi maupun keuangan keluarga. Sekarang lagi nge-trend dream board, tempel gambar tujuan wisata, mobil, rumah atau nama sekolah anak.


Kelola keuangan pribadi maupun keluarga.


Siapa yang masih suka memiliki pikiran, “Duitku selama ini kemana ya?”😑😏😆

Wah, kalau masih memiliki pemikiran seperti itu, berarti memulai mencatat keuangan pribadi atau keluarga. sederhana saja, mencatat pengeluaran dan pemasukan, nantinya akan mengetahui setiap bulannya, berapa pengeluaran rutin, kemudian membagi pendapatan dengan pengeluaran rutin.

Berikut langkah pembagian ideal untuk keuangan bulanan :

40 – 60 % : Biaya sehari – hari (belanja dapur, transportasi, listrik, air, telepon, iuran sekolah, gaji pembantu dan lainnya).

2,5% : Sosial (zakat, infaq, sedekah dan lainnya).

Minimal 10 % : Simpanan (tabungan, investasi, emas, asuransi dan lainnya).

Maximal 30% : Cicilan (KPR, kartu kredit dan lainnya).


Bisa dijadikan pedoman, namun dapat disesuaikan dengan keadaan pendapatan maupun pengeluaran pribadi. Misalnya tentang asuransi, ada yang tidak memiliki asuransi, memiliki asuransi hanya satu, asuransinya banyak, semua disesuaikan dengan kebutuhan maupun keadaan keuangan masing - masing. Di atas bisa dijadikan gambaran bagaimana mengatur keuangan, pribadi maupun keluarga. 

Hutang sifatnya produkstif, bisa untuk tambahan modal usaha, jangan berhutang hanya untuk konsumtif, agar hutang dapat memberikan kontribusi untuk menambah pendapatan bukan malah menambah beban dengan berutang.

Dana darurat.


Kita tidak bisa menutup mata dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia, gempa, banjir, angin topan, dan musibah lainnya. Selain menimbulkan korban, juga banyak harta benda yang hancur atau hilang. Kejadian seperti ini memang di luar kuasa manusia. Dibutuhkan dana darurat jika terjadi hal seperti ini maupun saat terkena musibah lainnya, seperti terkena PHK, pencurian, kecelakaan, pasangan meninggal dunia maupun musibah lainnya.

Ada beberapa referensi berapa alokasi untuk dana darurat, ada yang bilang mengalokasikan dana darurat adalah minimal 3 bulan pengeluaran, ada yang bilang 6 bulan. Jika dibuat persen, 10persen dari pendapatan.

Semakin merasakan risiko pekerjaan, semakin besar dana darurat – Safir senduk, perencanaan keuangan.

Menyiapkan dana darurat dilakukan sebelum berinvestasi. Agar jika terkena musibah, dapat langsung mengambil dana darurat dan tidak mengganggu alokasi dana untuk investasi.

Apalagi jika pekerjaan sebagai freelance, banyak sekali risiko yang ditanggung, tidak dapat gaji bulanan, asuransi dari perusahaan, maka dana darurat harus dipersiapkan secara matang.

Investasi di mana?


Pilah – pilih produk investasi memang membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi bagi investor pemula, ada rasa khawatir apakah sesuai dengan ekspektasi, ada juga yang masih bingung bagaimana memulai untuk membeli produk investasi.

Langkah pertama adalah mendapatkan referensi sebanyak – banyaknya, referensi dari teman yang sudah mulai untuk berinvestasi, tanya sebanyak – banyaknya hingga paham, mengerti dan mulai untuk berinvestasi.

Selanjutnya, cari produk investasi yang disesuaikan dengan dana yang dimiliki, memahami risiko dan keuntungan yang didapat, baca baik – baik aturannya, selalu cek di OJK legal atau tidaknya suatu investasi (jika ingin berinvestasi di reksadana, cek Manajer Investasi di OJK, legal atau tidak), cek juga track record Manajer investasi atau perusahaan sekuritas jika ingin berinvestasi dalam bentuk saham.


Jangan berutang.


Dana investasi merupakan dana yang benar – benar bebas bukan dari hasil pinjaman, takutnya nanti terjadi “gali lubang, tutup lubang”. Benahi dulu keuangan pribadi, kalau keuangan sudah sehat dan siap, langsung deh alokasikan dana untuk berinvestasi. Jangan sampai dengan berinvestasi, malah mengganggu keuangan setiap bulannya.

Posting Komentar

0 Komentar