Ngobrolin Duit Dengan Pasangan, Yay Atau Nay?

ngorbrolin duit dengan pasangan


Beberapa hari setelah nonton youtube raditya dika dengan ligwina hananto (financial planner) yang saat itu membahas tentang caranya jadi kaya, durasi videonya lumayan panjang pembahasannya dan salah satu obrolan yang menarik yaitu tentang ngobrolin uang dengan pasangan, bahkan yang sudah menikah masih banyak masalah tentang keuangan yang didasari karena buruknya komunikasi dengan pasangan. Mengapa bisa demikian? Salah satu penyebabnya adalah di Indonesia masih dianggap tabu jika pasangan ngobrolin tentang uang, nantinya dikira ceweknya matre, padahal bisa dilihat dari topik pembicaraannya, kalau tentang masa depan, wanita juga perlu tahu kesehatan keuangan dari pasangannya, begitu juga sebaliknya. Banyak hal yang dibahas, yang penasaran tentang vlognya Raditya dika langsung meluncur aja di channelnya.

Beberapa kali ngedraf tentang hal ini, karena masih bingung ngetiknya dimulai dari mana, mau kasih tips tapi kan belum menikah. Akhirnya mau nulis tentang curhatan yang tentu saja dari pengalaman, karena beberapa kali pacaran mulai dari sekolah hingga sampai saat ini, tak terhingga berapa kali pacaran, eh. Ternyata pemikiran saya tentang penghasilan, mengelola hingga membelanjakan uang mengalami perbedaan.


Pemikiran dulu dan sekarang tentang uang.


Saya pernah pemikiran jika, “Cowok harus traktir”, “Ulangtahun harus dapat kado dari pacar”, apakah pemikiran itu salah? Menurut saya, tidak salah. Semua orang memiliki pandangan sendiri tentang sesuatu hal. Pemikiran juga dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan seseorang. Saya memiliki pemikiran seperti itu tentunya ada latar belakang pengalaman sehingga tercetus pemikiran seperti itu.

Bertambahnya umur, bertambahnya pengalaman, pemikiran saya ternyata bisa berubah menjadi, “Ayo deh terbuka masalah duit, saya yang gantian traktir nggak masalah kok”. Tapi, bukan serta-merta kencan pertama langsung bahas tentang duit. Saya tipe yang mengamati terlebih dahulu, kesan pertama dari si cowok yang bisa jadi pertimbangan untuk langkah berikutnya. Kadang punya cowok yang langsung inisiatif sendiri, hari Sabtu pengin nonton, hari kamis makan di kantin aja karena duitnya menipis. Pernah juga punya gandengan, cowok yang menyerahkan pilihannya sama cewek. Biasanya kalau berada di posisi seperti ini, pilihannya adalah tempat makan yang lagi kekinian rekomendasi teman atau malah saya membuat dua pilihan tempat makan. Sejauh ini berhasil, dalam artian dia nyaman dengan cara saya menentukan tujuan, dan hal ini kecil ini juga disambut baik dengan pasangan, berbagi referensi tempat makan, diskusi ringan bisa membuka kejujuran tentang hal lain.


Hal yang perlu diperhatikan saat ngobrolin uang dengan pasangan.


Hal yang membuat saya resah dan akhirnya jadi postingan ini karena adanya kejadian perceraian karena didasari oleh faktor keuangan, ditambah lagi dengan ketidakjujuran. Pihak wanita baru tahu kalau si lelaki masih punya hutang turun-temurun yang ditanggung, setelah mereka menikah. Gaji wanita lebih tingi dari laki-laki dan ujung-ujungnya jadi permasalahan. Gaji laki-laki ternyata berkurang, komunikasi yang jelek bisa membuat wanita curiga, “jangan-jangan gaji suamiku dipakai buat selingkuhannya”. Drama banget, tapi itu nyata adanya di masyarakat. Menikah bukan hanya untuk 1 atau 2 tahun saja, tapi seumur hidup. Tidak mudah menyatukan dua keluarga, eh ternyata harus pisah juga. Apalagi kalau sudah punya.

mengelola keuangan dengan pasangan


PHK, pengurangan bonus, memang suatu kejadian yang tidak bisa kita hindarkan. Kecuali hutang, secara sadar kita berhutang, jadi hal utama yang saya bicarakan pada calong pasangan saya (dalam tahap yang serius) adalah tanggungan. Apa masih punya adek yang masih ditanggung? Apa ada hutang keluarga? Hutang pribadi ada berapa? Dan sebagainya. Sensitif memang, tapi hutang akan memengaruhi masa depan rumah tangga. Pasti mau dong punya rumah sendiri, pasti mau dong punya anggaran untuk persalinan, nah jangan sampai hutang memengaruhi impian membentuk keluarga bahagia sesuai dengan harapan.

3 hal yang saya perhatikan saat ngobrol tentang duit bareng pasangan :


1. Waktu.
Waktu ini bisa diartikan lamanya hubungan. Kalau masih pacaran, saya tidak menuntut apa-apa, kan masih pacar. Apalagi kalau masih sekolah, pernah punya pacar saat jadi mahasiswi, paham juga kalau mahasiswa banyak mengeluarkan uang karena print tugas, berlembar-lembar kayak mau saingan sama yang lagi skripsi. Kembali lagi, kuncinya adalah komunikasi, kadang hanya makan di kantin, kadang juga makan sekaligus nonton, ya meskipun putus juga, tapi semua itu, kedua belah pihak kan sudah menerima setiap diskusi, kondisi, dll.

Kalau cewek nolak dideketin sama cowok berkantong tipis, nggak masalah, itu hak dia memiliki kecenderungan untuk memilih cowok berduit. Semua memiliki preferensi untuk menentukan siapa yang jadi pasangannya. Semakin lama hubungan, berarti akan menuju ke hubungan yang serius, di sinilah saya memiliki beberapa pertimbangan yang akan didiskusikan.pastinya selektif, ada sesuatu yang ditoleransi dari pasangan, ada yang tidak, karena memang manusia tidak ada yang sempurna. Setidaknya setiap orang memiliki pertimbangan.


2 .Latar belakang keluarga.
Bukannya kepo, tapi keluarga juga punya andil dalam keuangan pasangan. Misalnya, pasangan ternyata masih punya tanggungan saudara yang masih sekolah, masih punya utang keluarga, dll. Atau ada kasus yang lebih ekstrem, mertua terlalu mendominasi keuangan pasangan, dan kasus-kasus lainnya. "Ah, namanya juga keluarga, maklum aja". Nah, sampai batas mana rasa maklum ini dapat ditolerir, apakah mengganggu masa depan keluarga kecil yang nantinya akan dibina? Sebelum menikah memang perlu pertimbangan, lebih intens diskusi dan cari solusinya, mungkin ada persentase alokasi dana untuk kebutuhan yang ekstra, atau bisa jadi calon pasangan ikut membantu untuk meringankan beban. Jangan karena maklum, nggak enak sama keluarga istri/suami, masalah uang bisa merembet ke mana-mana, semoga diberikan solusinya untuk semua pasangan yang sedang dalam kondisi sulit.


3. Latar belakang pasangan.
Entah kenapa, saya punya asumsi kalau boros itu sudah merupakan hal yang kebiasaan, gaji berapapun tidak akan pernah cukup bagi orang yang boros. Saya juga agak maju mundur kalau didekatin cowok yang boros karena ujung-ujungnya bakalan mengandalkan hutang. Wah, maaf banget nih, mundur alon-alon aja. Takutnya, bakalan gali lubang, tutup lubang, gitu aja terus. Susah memang mengetahui orang boros, kadang cowok juga butuh meningkatkan "tampilannya" dengan barang branded karena lingkungan kantornya seperti itu. Tapi, menurut saya sebuah insting seorang wanita jangan diabaikan, lama menjalin hubungan, pasti juga tahu kebiasaannya seperti apa. Pendapat orang lain juga perlu jadi bahan pertimbangan, bisa ngobrol santai bareng temannya, jangan-jangan sering berhutang sama temannya. Jangan-jangan suka utang di pinjaman online. Waspada boleh, tapi jangan seperti detektif ya, main cantik aja.


Boleh juga cerita tentang ngobrolin duit dengan pasangan, di kolom komentar ya

Posting Komentar

0 Komentar