Liburan Aman Tanpa Was-was

pengalaman liburan


Rezeki itu nggak melulu tentang uang, meskipun uang juga bisa bikin bahagia, tapi ada hal lain yang datang tak terduga, yaitu restu orangtua untuk jalan-jalan bareng teman. Meskipun terdengar aneh tapi ini nyata.

Kalau ditanya kenapa susah dapat izin, akupun juga bingung, entah alasannya kenapa. Karena dapat jawabannya selalu berubah-ubah, intinya sih nggak tega lihat aku yang masih kecil kalau keluar rumah nggak ada yang menemani.

Mungkin alasan “nggak tega” bisa masuk di akal jika usiaku masih belasan tahun, nggak boleh pergi ke luar kota tanpa ada dampingan orangtua, kecuali acara sekolah.

Susahnya dapat restu.

Ketika beranjak dewasa sekitar umur 20an, diberikan kesempatan untuk kuliah di Malang, berasa ada kesempatan untuk melihat “dunia luar”. Apa daya, penginnya mbolang beberapa hari untuk explore Malang. Eh ternyata, semester awal sudah dipenuhi dengan tugas. Liburan sebatas pergi ke Bale kambang, sengkaling, seharian aja, dari pagi sampai sore.

Pernah juga curhat ke teman kos yang senasib. Katanya sih, anak bungsu memang begitu di mata orangtua, selamanya akan tetap jadi anak-anak meskipun umurnya udah 30an. Tapi, nggak gitu juga sih ya…

Bayangkan, harus naik bis kalau mau ke Malang. Alasannya kalau nunut naik sepeda motor, rawan ngantuk, nanti ada apa-apa di jalan. Berangkat dari rumah ke Bungurasih (Purabaya) diantar sama Bapak. Padahal nih, jarak rumah ke Bungurasih lumayan dekat, jalan besar, waktu itu angkot masih banyak banget, akses transportasi mudah. Tapi, tetap harus diantar.

Lama-kelamaan timbul gejolak untuk membangkang, bukan yang kayak gimana sih, aku gocik orangnya. Aksi "pemberontakan" sekadar pulang ke rumah dari kos (Malang), boncengan naik motor. Ternyata lagi apes, aku jatuh dari motor. Auto panik dong ortu, untungnya jatuh pas udah di Sidoarjo, jatuhnya tuh kayak tersungkur, tangan yang bikin cenut-cenut, esoknya langsung njarem semua. Nggak lagi-lagi bantah ortu.

Akhirnya, pasrah aja.. Kalau emang belum dikasih izin buat kemana-mana, sabar aja, nanti ada waktunya. Mau melakukan apapun itu, ortu diberitahu terlebih dahulu, mau pergi, terima job atau apapun itu. Sekarang lebih legowo, daripada pusing mencari sebuah penyebab aku nggak boleh kemana-mana, mending memantaskan diri kalau emang udah dewasa, nanti ortu luluh juga.

Stratergi Merencanakan Liburan Impian.

Pada awal tahun ini, memberanikan diri untuk bikin paspor, gara-gara kena “kompor” Indah, ngajak ke Negara tetanga sebelah. Tentu saja reaksi Bapak saat aku minta izin. Selama ini anaknya nggak jalan-jalan luar kota sendirian, kok tiba-tiba bikin paspor.

Butuh (kurleb) 2 hari untuk dapat kata “iya” dari Bapak, itupun harus dengan alasan yang kekeuh kalau pengin banget jalan-jalan ke Negara tetangga, cari yang halal, mayoritas muslim, udah ada rencana tujuannya ke mana aja.

Ternyata proses untuk daftar paspor baru, tidak merepotkan, karena serba online, hanya saja harus sabar. Karena buka pendaftaran antrian setiap hari Jumat, kadang aksesnya error gara-gara banyak yang daftar, nunggu beberapa jam untuk daftar lagi.

Hamdallah, ternyata bisa daftar antrian di Imigrasi Juanda, sengaja milih yang lokasinya dekat dari rumah, pilihan lainnya cukup jauh, ada yang di BG Junction, Perak, dll.


daftar paspor online
Bukan buku nikah :(


Sebenarnya untuk warga Sidoarjo ada kantor khusus, yaitu Mal Pelayanan Publik, semacam pelayanan satu pintu untuk pelbagai urusan termasuk daftar paspor. Berhubung masih baru, udah parno duluan kalau performa stafnya kurang maksimal, mending langsung ke kantor imigrasi aja.

Dari urusan daftar online, proses administrasi di imigrasi hingga menerima paspor, benar-benar cepat nggak ada kendala, untung saja biayanya terjangkau, karena saat saya ambil paspor, sudah tertera pengumuma kenaikan biaya.

Niat banget di tahun 2020 untuk jalan-jalan ternyata semesta ikut mendoakan. Ikutan jalan-jalan bareng Ning blogers ke Mojokerto, rumahnya Wulan. Beberapa minggu kemudian dapat info kalau aku dan beberapa teman bloger Surabaya lolos ke Jakarta, ada acara dari Bank Indonesia, dibayarin, dikasih uang saku.

Sebelum ke Jakarta, sudah ada rencana terlebih dahulu ke Semarang, bareng Indah, Eta dan Kiky, pede aja meskipun aku yang paling tua. Beneran baru pertama kali ke Semarang, biasanya langsung ke Tegal dan Slawi untuk pulang kampung.

Awal tahun sudah sibuk melalang buana, Bapak sampai heran, apa nggak capek. Apapun kalau dilakukan dengan enjoy, happy, berasa nggak ada beban, tetap jaga kesehatan, bawa vitamin, salonpas, minyak kayu putih atau persiapan lainnya termasuk obat-obatan pribadi.

Restu Orangtua Didapat, Lancar Semua.

Tentunya, sebelum mengikuti pelbagai rencana jalan-jalan, udah minta izin, dan persiapan yang matang. Meskipun dalam hati masih bingung juga, “Bawa duit berapa ya ke Semarang, ngapain aja ya”, daripada mumet, bawa santai ajalah, apa kata nanti, yang penting stamina harus strong.

Nggak menyesal jika melakukan perjalanan di usia 30an. Kadang, hidup tuh bukan untuk berlomba, siapa yang duluan udah menikmati kota A, siapa yang duluan menikah, bukan juga berlomba-lomba dengan tetangga untuk beli sepeda baru.

Dinikmati aja setiap momentnya, nanti akan ada waktu terbaik untuk mewujudkan setiap wish list atau keinginan yang dibawa dalam doa.

Kalau aku memang harus bersaing, dengan diri sendiri, untuk menahan hawa nafsu dari flash sale ataupun promo tanggal dan bulan kembar dari sopi, menghambur-hamburkan kekayaan untuk memenuhi hasrat duniawi yang nggak penting-penting amat.

Percaya deh, setiap pekerjaan ataupun punya rencana-rencana, restu dan doa orangtua jangan lupa untuk disertakan, karena bisa diberikan kelancaran dan keberkahan. Tetap berpikir positif, jika ada yang belum dikabulkan, nanti akan ada hari yang indah untuk kamu nikmati.

Tidak ada komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)