Perjuangan Anak Sekolahan

hemat ala anak sekolahan


Kenangan masa SMA cukup dikenang aja, cukup sekali saja merasakan masa pencarian jati diri, nakal, dan selalu berusaha untuk diterima dalam lingkungan sosial. Sok-sokan jadi yang paling keren, hadeh.. paling mbuh.

Untung saja, masa SMA masih ada moment yang bisa dinikmati karena ada teman yang bisa “klik”. Dulu mulai mengenal yang namanya geng, meskipun nggak ada niat untuk bikin geng, tapi tetap aja teman lain menganggap aku dan teman akrab merupakan sebuah geng. Padahal nggak merasa sok eksklusif, siapa aja boleh gabung.

Sebut saja, Siti Badriah, Titi Kamal dan Krisdayanti (semua buka nama sebenarnya) merupakan anggota geng yang nggak ada nama gengnya. Ketemu mereka pertama kali saat OSPEK, seru aja kalau ngobrol sama mereka, apalagi setiap member memiliki karakter yang beda, jadi kayak nano-nano, rame rasanya!

Gengku bukan yang orientasi ke penampilan, hanya saja sering nongkrong beli jajan yang lagi hits, photobox dan beli baju kembar 4. pantesan duit jarang ada sisanya, kalaupun ada, selalu aja dihabiskan untuk photobox, padahal setiap hari ketemu, wajah masing-masing juga nggak ada perubahan, tetep aja hobi photobox.

Karena doyan banget kluyuran, jajan dan belanja baju kembar 4, jadinya jarang banget bisa nabung, ada aja yang dibeli, berasa kayak dituntun sama lingkungan untuk jadi anak “gaul” harus up to date. Padahal punya geng yang membernya bisa dikatakan “biasa aja” dibandingkan dengan geng kelas sebelah yang fashionable.

Dibikin nyaman untuk hura-hura, dan akhirnya tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Mumpung masih muda, sering main ke mall. Saat itu banyak bermunculan mall baru di Sidoarjo, pengin banget disebut anak gaul Sidoarjo, makanya seminggu 2-3 hari jalan ke mall.


Selau Ada Ide Saat Kepepet


Nampaknya kesilauan duniawi tidak bertahan lama, karena kelas 3 merupakan apa arti perjuangan sesungguhnya. Sebernanya sudah ada sounding dari wali kelas kalau kelas 3 bakalan banyak kegiatan, banyak praktik, pasti butuh dana yang tidak sedikit.

Saat kelas 1 dan 2 berasa kayak sultan, lain halnya kelas 3, berasa seperti lagi isi bensin, dimulai dari nol. Ada aja iuran, kalau dulu sering pakai metode matematika kreatif, kali ini mulai tobat karena sudah kelas 3, akhirnya bayar iuran pakai uang saku.

Semenjak “mengencangkan ikat pinggang”, aku memiliki kebiasaan baru, yaitu bawa bekal yang sengaja aku siapin sendiri, seperti bawa bekal nasi plus telor dadar, atau hanya sekadar buah potong aja. Gerakan hemat uang saku semakin “menggila” saat ada pengumuman study tour.

Ortu menyanggupi bayar study tour, tapi untuk uang saku, hanya sekadarnya, kalau mau belanja, pakai uang sendiri. Oke deh, niat ingsun.


meme drakor


Satu geng memiliki ide untuk ngirit bareng agar bisa nabung sebanyak-banyaknya. Kami sering berbagi bekal, atau kalau pengin makan di kantin, beli 1 ayam kripi untuk berdua, nasinya yang banyak.

Ternyata niat untuk hemat sering gagal di tengah jalan, sedikit demi sedikit ambil uang di celengan. Padahal ada beberapa iuran yang harus dibayar, seperti iuran rutin kelas (untuk perpisahan), iuran beli Qurban saat Idul Adha, iuran study tour, dan masih ada lagi iuran wajib untuk praktik beberapa mata pelajaran.

Saat itu masih ingat jelas, berita simpang siur kenaikan tarif untuk angkot. Satu geng naik angkot bareng, kadang nebeng yang saat itu bawa motor.

Tarif angkot menyentuh angka 5ribu (jarak pendek ataupun jauh), untuk anak sekolah dikenakan tarif 4ribu. Tapi, bagi kami berempat yang kantongnya kempes, uang 4ribu sangat berarti. Akhirnya cari akal.

Jam pulang sekolah berbunyi, kami berempat celingak-celinguk cari angkot di luar gerbang sekolah. Cari angkot yang sekiranya hampir penuh dengan penumpang, biar langsung berangkat, nggak kelamaan nungguin ngetem.


Saatnya eksekusi rencana…


“Pak, bayar belakang.” kata Titi sambil turun dari angkot dengan percaya diri.


“Belakang, Pak!” giliran Siti turun dari angkot.


“Pak, bayarnya di belakang, ya.” kata Yanti penuh semangat.


Giliranku tiba, kuberikan beberapa lembar uang ribuan lusuh untuk membayar, kemudian bergegas menyebrang.

Akhirnya, rencana kami untuk mengatakan “bayar belakang” yang berarti, bayarnya sekalian sama teman yang nantinya turun paling akhir, ternyata sukses! Meskipun sayup-sayup aku mendengar teriakan dari Pak supir angkot,



“Heh! Mbak, mbayar'e kurang!!”


Aku tetap cuek, sambil mempercepat langkah.


tips hemat

0 comments

Posting Komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)