Liburan, Hiburan dan Refleksi.




Meskipun malam tahun baru sudah berlalu, tapi ada yang terlintas di pikiran, “Apakah hal (yang menurutku) membosankan harus diceritakan? Mulai mengetik postingan ini, rasanya, idih yang nulis aja berasa bosen, apalagi yang baca.

Tapi, mungkin saja di luar sana ada yang merasakan hal yang sama, malam tahun baru merasakan ke-mager-an yang luar biasa. Anehnya, meski mager ya dinikmati aja, nggak ada yang salah dengan leyeh-leyeh tanpa memikirkan hal yang bikin ruwet pikiran.

Malam tahun baru ngapain?

Baiklah, mari mencoba menceritakan malam tahun baru, menyelipkan tentang liburan yang tetaplah dibutuhkan meskipun bukan pekerja kantoran.

Liburan.

Meskipun sebagai freelance yang kerjaannya bisa kapan aja cenderung fleksibel, untuk urusan liburan, diusahakan “seirama” dengan sekitar. Kadang pergi sama keluarga, nunggu liburan sekolah, atau nunggu tanggal merah.

Jadi, kalau memang waktunya liburan, aku bakalan usahain untuk ikutan liburan, meskipun sekadar makan di luar bareng keluarga, jadi nggak pegang kerjaan. Meskipun keluarga pada sibuk, aku ya tetap liburan, tujuannya untuk tidak membedakan diri, aku ini tidak ada bedanya dengan masyarakat yang bekerja, kalau tanggal merah, jangan terlalu maksain, kasih waktu untuk tubuh, untuk orang sekitar, menyapa tetangga, main sama teman,dll.

Bagiku liburan memberikan jeda dari rutinitas, kita harus menghandle kerjaan, bukan kerjaan yang menguasai kita.

Ternyata saat akhir tahun, seharian udah ujan aja nih. Maunya reunian sama teman SD, berhubung ujan dan jalanan pada di tutup lebih awal. Maka liburan di rumah aja, “cuma” nonton film korea, nonton marathon anime, beli jajan, nulis (semacam) diary, kemudian tidur.

Ya gimana dong, nggak bisa keluar, hal yang paling bikin nyaman ya teman tempat tidur. Bebaslah mau ngapain. Mau tidur lebih awal, nggak bisa karena banyak suara petasan, bahkan sebelum jam 12 malam, udah mulai bising.

Refleksi diri.

Malam tahun baru memang paling tepat untuk refleksi diri. Kadang-kadang, setiap hari sebelum tidur, mengingat apa saja yang dikerjakan, apa yang sudah selesai, apa yang terlewatkan. Eh, tapi evaluasi diri nggak setiap hari, kadang seharian pengin mager aja di kasur. Ya namanya juga manusia, seenaknya udel gitu.

Malam tahun baru biasanya menulis resolusi, tapi untuk tahun 2021 nggak begitu banyak berkespektasi. Selow aja lah…

Eh baru ingat, kalau tahun 2021 memiliki “gambaran besar” mau ngapain aja, menyisipkan hal-hal baru beserta doa agar tujuan tercapai.

Sepertinya tahun ini ingin lebih dekat dengan Allah SWT, karena bulan Ramadan sudah dekat. Sisi spiritual ingin konisten, masih PR banget nih konsisten. Ada aja godaan buat ghibah *eh*.


Hmm…

Apa lagi ya.


Nggak ada yang spesial untuk menikmati malam tahun baru, atau aku yang terlalu mager? Kalau diceritain, mungkin yang denger bakalan bosen.

Tapi kenapa aku menikmati ke-mager-an ini, berasa mager itu sebuah apresiasi. Selama ini (khususnya masa pandemi) aku bukan orang dengan aliran cocoklogi, patuhi peraturan, minum vitamin, pokoknya merupakan Warga Negara yang baik.

Satu lagi,

Pada malam tahun baru, selain nonton drakor. Aku juga ngintip rekening, mau lihat seberapa besar hasil tabungan, tapi nggak hitung berapa besar yang dibelanjakan, karena nggak catat belanjaan, hanya kasih pos-pos pengeluaran. Kalau menyisihkan 500rb untuk jajan sebulan, ya harus habis, terserah mau dipakai apa, nggak perlu dicatat. Pernah mencatat setiap harinya, malah stress mikirin duit yang keluar, kemudian diubah untuk membuat pos anggaran, untuk belanja sudah jatahnya sendiri, nggak perlu pusing mau belanja apa.

Nabung ini butuh usaha, makanya aku paling getol lihat tabunganku. Padahal tahun 2020 udah menyiapkan dana tabungan untuk liburan, tapi nggak terpakai gara-gara krona, eh akahirnya malah dipakai buat belanja skincare, nggak apa-apa karena bisa “diputer” untuk bahan konten dan Alhamdulillah bisa berubah jadi duit lagi.

Tabungan sampai dengan akhir tahun 2020 bikin senyum, dan sekaligus jadi godaan besar. Semoga bisa memanfaatkan duit dengan benar.

Sudah gitu aja sih, berasa nggak ada istimewanya dengan hari-hari lain. Kapanpun harus tetap happy dan selalu bersyukur.

0 comments

Posting Komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)