Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Monolog Malam Hari Sari : Apakah Saya Membutuhkan Pernikahan?



Mau curhat apa lagi, Sar? πŸ˜‚


Btw, karena nulis di blog personal, malah bingung loh mau nulis judulnya apa, sepertinya kalau curhat pakai beda-beda judul tapi isinya hampir sama πŸ˜‚ tentang proses saya melihat dan bersikap dari kejadian yang saya alami. Tenang aja, nggak ghibah orang lain, saya lebih bercerita diri sendiri, nanti saya baca lagi dan berasa takjub sendiri, "Oh... saya pernah berpikir seperti ini". 


Apakah saya membutuhkan pernikahan?


Berawal dari obrolan dengan Mas Ex Crush *apaaa ini, padahal masih crush, sekarang jadi ex crush πŸ˜‚* dari obrolan itu, kemudian saya berpikir, "Lelaki seperti apa sih yang saya cari?"

Keluarga dan beberapa teman, heran kenapa saya masih jomblo, jangankan mereka, sayapun juga kaget. Saya selalu berkata kalau saya sudah move on, jangan khawatir. Saya jomblo ya memang lagi jomblo aja, bukan karena alasan apapun.


Apa yang saya cari?


Kemudian obrolan dengan beberapa teman tentang relationship dan pernikahan, membuat saya bertanya pada diri sendiri, sebenarnya apa sih yang kamu cari dari pasangan saya kelak?

Memori saya terlempar dengan bebasnya untuk melihat masa lalu, ternyata saya memiliki pola (mantan) pacar sebelum-sebelumnya, termasuk gebetan yang membuat saya deg-degan jedag jedug gedubrak...

Saya tau kalau setiap lelaki memiliki sisi yang menarik, namun dalam hal urusan hati *uhuuk* ternyata saya memiliki pola, bukan karena fisik karena lelaki yang bikin saya deg-degan, biasa saja. *bersandar pada pundak oppa-oppa Korea*


Polanya seperti apa tuh? la-ha-ciaaaaa.. rahasia dong aaah..


Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya, mungkin saat saya nulis kriteria pasangan, ada ABCDE, eh yang nyantol di hati ternyata kriteria yang masuk CDE, atau BDE, atau malah yang menarik hati kriterianya XYZ. Di sinilah saya harus melihat apa sih yang saya cari, bukan pilah-pilih, tapi saya butuh penyeimbang, saya harus kenal dengan diri sendiri, agar saya paham siapa yang bisa menyeimbangkan saya.

Dengan mengetahui pola dalam mencintai (dari masa lalu), ditambah dengan mengenal diri sendiri, setidaknya saya memiliki beberapa kriteria yang wajib dimiliki oleh laki-laki. Nggak asal "yang penting suka sama saya", saya tidak menginginkan relationship seperti itu. Hidup aja punya tujuan, memiliki hubungan dengan pasangan juga harus punya tujuan dong, punya hal yang klik, dan saya masih orang yang jadul, hubungan juga harus punya rasa deg-degan, rasa grogi, rasa senyum-senyum sendiri.

Lantas apa yang saya tawarkan pada pasangan saya (kelak)? Jiwa dan ragaku... eeehhh...πŸ˜‚ nggak dibahas di sini jugaaa, nantilah bicara empat dengan masnya.. mbuh sopo iku 😁

Beberapa akhir ini Bapak sering minta ditemani untuk jalan-jalan, dan ngobrol. Salah satu nasihat Bapak :

"Kalau punya pasangan, jangan dibuat kalah-kalahan".

Maksudnya tuh, saya jangan maunya menang terus, egonya jangan digedein, jangan maunya dimengerti, pokoknya gitulaaah πŸ˜’πŸ˜‘

Ahh.. Bapack, kalau kasih nasihat suka bener, sungkem dulu πŸ˜‚


Apakah saya butuh pernikahan?


Salah satu teman saya nyeletuk kayak gini

"Emangnya kamu butuh nikah, Sar?

Kemudian ia menjelaskan lebih lanjut, karena saya setrrrooong, alasannya, saya kuat bolak-balik ke ruamh sakit dan menginap ketika menjaga Mama, begitu pula ketika Bapak harus segera dilarikan ke ICU, saya sendirian yang mengantar ke Rumah Sakit. Dibilang strong karena bisa main ke mana-mana sendirian, pergi ke psikolog sendirian, dan banyak hal lain.

oiya ya.. ternyata saya lebih kuat dari yang saya pikirkan..


Namun, saya nggak sekuat ituuuuuu....


Saya melakukan itu karena saya harus melakukannya, nggak mungkin dong di depan orang sakit, saya nangis, saya lemah, ya harus kuat. Tapi nggak ada yang tau di balik hal yang saya lewati, beberapa kali harus melipir ke Masjid dekat RS untuk sejenak nangis, karena nggak kuat lihat orang tua di infus, di suntik, minum obat, cek ini itu, rasanya pengin saya gantiin aja. Menyuapi orang tua rasanya pengin nangis, setiap suapan selalu berdoa, boleh nggak sih umur saya dikurangi biar Mama hidup sedikit lebih Mama. 

Saya nyaman kemana-mana sendirian, karena yaaa kenapa nggak, pede aja, nyaman dengan menjadi diri sendiri. Lagipula, teman saya banyak yang sudah menikah, kalau ngajak mereka harus ijin suami. Kalau ada waktu, janjian kok untuk nongkrong.

Pada dasarnya, saya nggak suka merepotkan orang lain, dulu Mama ngajarin kalau bisa dikerjakan sendiri, ya kerjakan.

Lebih sat set wat wet aja kalau memang bisa dikerjakan sendiri, tapi saya bukan orang anti sosial, masih suka ngobrol sama teman. 

Sampai sekarang, saya masih berpikir ; Pasangan yang seperti apa yang saya cari? Untuk apa saya menikah? Bagaimana saya menjalankan pernikahan? Bagaimana tentang anak? dll

Untuk sementara saya sudah mendapatkan jawabannya. Ya, saya butuh menikah, bukan hanya karena ingin, karena tekanan masyarakat, karena umur, apalah, karena saya memiliki alasan dari hasil pemikiran saya.




Saya ingin punya Ibu Mertua

Saya ingin punya Ibu Mertua, ada suatu kejadian yang membuat saya punya pikiran seperti itu.

Beberapa minggu yang lalu, saya main ke rumah konco plek, jadi udah kenal lah sama anggota keluarga sahabat saya. Suatu ketika saya ditawarin makan.


"Mbak Sari, ayo makan. Lauknya seadanya."


Tiba-tiba saya bedoa dalam hati.

Ya Allah.. Saya pengin punya Ibu Mertua.


Saya rindu disuruh Mama untuk makan, diomelin Mama karena terlalu sering di depan laptop, dimarahin karena jarang minum air putih. Semoga saya dapat Ibu Mertua yang baik, aamiin. Kalaupun nanti calon suami, ibunya sudah tiada, nggak apa-apa, ya mau gimana lagi.

Semakin ke sini, saya suka dengan hal-hal sederhana, saya memiliki orang tua yang keduanya pekerja, saya nggak marah dengan kesibukan beliau. Hanya saja, saya ingin merasakan hal-hal sederhana yang belum saya rasakan.

Pengin saja nanti ketika menikah melakukan hal-hal sederhana, seperti bikin bekal, meskipun nantinya saya jarang masak, maunya beli lauk aja *sungkem dulu sama Pak Suami* πŸ˜‚ pengin punya anak cewek biar nanti rambutnya bisa dikasih pita-pita lucu, skincarean bareng, bucin boyband kelak pada jamannya..

Seriusan deh, saya clueless kalau punya anak laki-laki, maunya cewek aja. Kalau anak-anak laki-laki tuh diapain, serahin aja sama Pak Suami, trus saya hanya rebahan aja?πŸ’ƒπŸ˜‚ 

Beda sama anak cewek, bisa diajak bersengkongkol untuk merayu bapak'e arek-arek untuk jalan-jalan ke mana gitu. halaaaah... pikirannya jauh yak, nikah aja belum, ya namanya juga berencana😜


Jadi begitulah, saya menjomblo bukan karena susah move on... uuhhh salah besar sobaaaat...


Move on (menurut saya) itu menerima, sesakit apapun kenyataan yang dihadapi, langkah pertama adalah menerima, nggak perlu delusi, nggak perlu spekulasi apa-apa yang mengaburkan kenyataan, saat itu harus berpisah, ya terima dengan sadar penuh. Kemudian, tidak merespon berlebihan ketika ada yang mengungkit kembali, atau ketika kita nggak sengaja melewati atau sekelebat kenangan masa lalu itu muncul, nggak bereaksi marah, emosi dendam kesumat, atau kita tiba-tiba larut ke dalam masa lalu.

Gampang? Nggaaaaaak....😜

Tidak bereaksi berlebihan bukan berarti sudah memaafkan πŸ˜‚, ya gimana dong, sayapun manusia biasa, tiba-tiba nama dijelekin sama orang lain, difitnah, apalagi pelakunya belum minta maaf, entahlah rasanya pengin tawuran ae

Sekarang saya sudah biasa saja, lebih tepatnya tidak peduli. aseeeek...

Dulu nih, saya benci banget sama SEO setelah perpisahan, karena Nama Yang Tak Boleh Disebutkan, membuat luka di hati saya, dan kebetulan si NYTBD berkecimpung di dunia SEO.


heeeeiiii... saya bukan manusia sempurna, saya nggak selamanya baik hati.


Saya sadar kalau saya mulai benci SEO, saya memilih untuk membenci apapun yang menyangkut dirinya. Saya sadar kalau sikap saya tidak patut untuk ditiru, tapi itu pilihan saya. 

Tenang aja, meskipun benci, tapi saya tetap nulis sesuai kaidah SEO, dan sebagai "ganti" benci SEO, saya belajar yang lain. Jadi, saya nggak berhenti untuk eksplor kemampuan diri.


Berproses itu nggak mudah.. namun kita akan mendapatkan sesuatu dari proses yang kita jalani.


Semakin ke sini, belajar dan memiliki beberapa pemikiran, salah satunya tentang kehilangan (klik aja postingan kemarin), dan ternyata saya lebih banyak bersyukur dari perpisahan yang kemarin..

Sekarang sudah lebih lega, lebih tertata perasaan dan pemikiran, bukan merasa lebih baik atau sempurna, tapi saya lebih mengenal diri sendiri.

Jadi, kalau ada yang mengungkit (sengaja atau nggak sengaja) tentang masa lalu, selow aja reaksinya, santai kayak di pantai. 

Sempat membenci SEO, ternyata beberapa hari yang lalu, saya mengikuti lomba SEO, ada perasaan rindu. Saya ingin belajar SEO lagi, karena pasti ada banyak hal yang terjadi, apalagi algoritma Google selalu update, saya pengin tau perkembangannya. 

Saya ingin belajar lagi, mulailah saya cari cara, bersyukur ada teman yang ngobrolin tentang SEOCon 2022. Saya pengin ikut dan biayanya juga terjangkau, eh ternyata ada kesempatan untuk dapat tiket SEOCon secara gratis *jiwa gratisan bergejolak*

Alhamdulillah dapat tiket, seneng banget selama dua hari bisa ikutan belajar secara gratis, hepiii. Nggak nyangka diberikan kemudahan. Selama 2 hari, otak ngebul banget. Saya lebih fokus ke content writing, astagaaa ternyata ilmunya wow banget, banyak hal yang harus dibenahi dan harus upgrade ilmu deh.

Saya nggak merasa tertinggal atau marah pada diri sendiri karena sempat "benci" SEO. Saya hanya berpikir jika itu hanya sebuah fase, jika saya merasa benci, saya harus mengenal emosi "benci" saya seperti apa, saya nggak melawannya, nanti juga saya akan menemukan cara pandang selanjutnya. Saya melakukan dengan sadar dan saya bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan.


astagaaa... ternyata selama ini saya menjomblo karena belum tahu apa yang saya cari... 


Apakah sudah saatnya saya menebarkan aura kejombloan yang uwuwuwuπŸ˜‚πŸ˜‚selowww.. santai.. nggak usah gupuh, kalau belum dapat pasangan tahun ini, masih ada tahun depan. Sabar sis..


Pada akhirnya, sendiri maupun (kelak) bersama pasangan, harus merasa nyaman dengan apa yang saya miliki (menjadi diri sendiri), tanpa harus berpura-pura hanya untuk memuaskan ekspektasi orang lain. Berproses menjadi lebih baik berawal dari hati bukan paksaan.

 

widiiiih... makin dewasa aja, Sar..

cakeeeep... 


Terimakasih sudah membaca, semoga bisa lanjut lagi ke monolog selanjutnya...





Don't let go

Don't run away love

I still got feelings you are my passion

Don't let go

Don't run away love

You are the one for me


*nyanyi heboh di depan Pak Suami*

*lawas banget yaaa lagu rekomendasi kali ini*


Posting Komentar untuk "Monolog Malam Hari Sari : Apakah Saya Membutuhkan Pernikahan?"