Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, Februari 20, 2015

Pilih Tunai Atau Kredit.

Hari ini jalan - jalan ke kota naik delman, eh naik angkot. Rencananya mau beli kain dan printilannya (resleting dan lain - lain). Enaknya naik angkot itu, selalu ada aja ceritanya. Waktu berangkat ke tempat tujuan, ada penumpang yang lagi galau ngobrol tentang biaya anak sekolah, cicilan motor, tapi hape keren banget. Ya gimana ya, kalau sudah mampu membeli smartphone sekian juta, tolong lah jangan mengeluh dengan kewajiban yang memang yang harus ditanggung, termasuk biaya sekolah atau cicilan lainnya yang sekiranya mendesak.

Masih ingat kan waktu pelajaran di sekolah tentang kebutuhan manusia yang dibagi menjadi tiga : kebutuhan primer, sekunder, tresier, ya semacam itulah. Kalau sudah berani membawa (membeli smartphone) yang harganya jutaan dengan merek kelas menengah ke atas, seharus kebutuhan primer sudah adem ayem alias tidak dipermasalahkan. Biaya sekolah sudah termasuk biaya primer kan? lah wong setiap bulannya ada aja duit yang dikeluarin untuk kegiatan sekolah. Nah, jadi mengapa harus mengeluh, mungkin bukan biaya sekolah yang semakin tinggi, melainkan kitanya aja yang belum melakukan perencanaan keuangan, keburu ngiler duluan kalau ada gadget terbaru.



BACA JUGA : KELOLA KEUANGAN DENGAN BIJAK.




Jadi ingat apa kata dosen, "Kalau bisa kredit mengapa harus tunai." kata - kata dosenku masih aku pegang sampai sekarang, kalimat sederhana tapi aplikatif. Harus bisa membedakan kapan saatnya ambil kreditan atau tunai. Banyak orang yang takut akan mengambil kredit, padahal nggak selamanya kredit punya citra yang negatif loh. Aku memiliki 2 keputusan kapan ambil kredit dan kapan harus bayar tunai.

  1. Barang konsumtif : Barang yang sekali pakai, barang yang berupa kepuasan semata, barang yang berupa status sosial, dan barang lainnya. Kita harus cermat mana yang barang konsumtif maupun tidak. Seperti televisi, smartphone, aksesoris, buku bacaan dan lain - lain. Untuk barang konsumtif, aku menerapkan BAYAR DENGAN UANG TUNAI. Lebih baik tidak memiliki barang konsumtif daripada harus kredit, Contohnya : Membeli televisi, meskipun ada kredit televisi dengan bunga -% gak akan memaksakan untuk membelinya karena hanya bersifat kesenangan, apalagi maksa ambil duit dari pos - pos keuangan lainnya. Karena pada saat kita membeli televisi, ya sudah sifatnya kesenangan semata, gak mungkin dong dijual lagi, harganya pasti jatuh dan belum tentu ada yang mau beli. Apalagi barang elektronik, 1-2bulan selalu saja ada model terbaru.
  2. Barang produksi. Lain halnya dengan barang konsumsi, kalau barang produksi, berani deh ngajuin kredit. Misalnya mesin beli mesin jahit atau sepeda motor, karena digunakan untuk produksi barang yang nantinya dijual kembali. Iya sih kalau kredit, dan diitung - itung lagi pasti harga barang lebih mahal karena biaya ini itu. Tapi, kalau dilihat dari sisi positifnya, yaitu agar aku selalu memiliki target penjualan yang gila - gilaan. Jadi, kredit bagaikan cambuk semangat untuk terus bisa melunasi. Mungkin jika dilihat pasti aneh, "Kok seneng barang kreditan (barang utangan)." Tapi, justru itu seninya ambil kredit, muter pikiran gimana harus lunas tepat waktu dan memiliki target penjualan yang ekstrem setiap bulannya. Kalau beli mesin jahit tunai, bisa - bisa aku leyeh - leyeh alias tidak memikirkan target.
Setiap orang pasti memiliki langkah - langkah tersendiri untuk financial planning. Dan itulah sebagian ceritaku untuk mengatur keuangan. Semoga bermanfaat ^^

random pict

9 komentar:

  1. Kalau KREDIT Motor misalnya. Dan Motor itu digunakan untuk bekerja mencari uang. KREDIT seperti ini BISA diterima. Karena motor KREDIT itu digunakan untuk mencari uang dan uangnya bisa digunakan untuk membayar cicilan Kredit Motor. kredit seperti ini sah

    BalasHapus
    Balasan
    1. setujuuuu... sepeda motor memiliki tujuan agar kita lebih produktif :)

      Hapus
  2. yup bener banget.. aku juga sangat amat ga berani ambil kreditan buat barang konsumtif. termasuk hp. walaupun hp digunakan buat dagang, tapi kalo bisa nabung dulu buat beli hp, walau murah gpp yg penting fungsinya, kenapa harus kredit, kok kayaknya ga sabaran banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. berani atau tidak berani memilih itu, saya rasa adalah pilihan yang kita setarakan dengan kondisi ekonomi, ingin punya tetapi tidak mau ambil resiko, ya tidak akan punya, karena lucu juga jika kita orang kaya, tetapi semua barang apapun itu jenisnya dari hasil kredit, kredit kan karena kita sudah mengelolah keuangan, apakah dengan kita membelinya dengan tunai masih ada sisa,atau pilih kredit saja, dengan alibi memikirkan hari esok,

      dipaksa membeli tunai tetapi selama 2bulan gak makan, kan lebih baik kredit walau ada hutang tetapi masih bisa makan, hehe..!! jadi saya pilih tunai kalau ada uang, dan pilih kredit jika uang pas-pasan jika barang itu sangat penting buat kita.

      Hapus
  3. iya. konsumtif banget. satu hal lagi yang bisa bikin orang jadi berani ambil kredit tanpa menghitung resiko. "gengsi" pengen terilhat lebih di depan orang lain..

    BalasHapus
  4. ketika mau kredit hendaknya harus dipertimbangkan kemampuan membayarnya, disesuaikan dengan gaji/penghasilan, kalau tidak..bisa2 berhenti di tengah jalan dan rugi karena biasanya kalau kredit itu kan bunganya tinggi

    BalasHapus
  5. beberapa bulan sebelum persiapan merit aku diantara 2 pilihan yaitu DP rumah atau resepsi yg biayanya emang dua-duanya bikin puyeng. hasilnya diambil dua-duanya, makin puyeng hahah. biaya resepsi itu termasuk kebutuhan apa mbak?

    BalasHapus
  6. tergantung barangnya sih biasanya aku ,kalau bisa di usahakan tunai saja

    BalasHapus
  7. Kalo bs tunai mah pengen langsung, tp klo beli mtr ya lumayan klo kredit

    BalasHapus

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)