Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, Oktober 13, 2015

Kelola Keuangan Dengan Bijak Untuk Menjadi Pribadi Mapan Financial.

Pernah nggak sih duit yang kita miliki cuma numpang lewat doang. Maunya sih nabung, tapi kok ya ambles buat keperluan bulanan atau bahkan habis untuk bayar cicilan? Banyak maunya, tapi susah untuk mengatur keuangan pribadi, kalau mengelola keuangan pribadi masih belum rapi alias masih berantakan, gimana mau mengelola keuangan rumah tangga *tsaaaah* *maklum jomblo*.

Nah, berawal dari kegelisahan pribadi, maka memang tepat untuk ikutan seminar atau lebih tepatnya belajar lebih dalam untuk mengelola keuangan dengan bijak. Pada tanggal 12 September 2015, Sun life Financial Indonesia mengadakan seminar Yuk Kelola Keuangan Dengan Bijak bersama Alviko Ibnugroho di Rocca restaurant, Artotel, Surabaya. Karena memang merasa pribadi yang masih awam, dengan pengalaman mengelola keuangan ya gitu – gitu aja, sangat antusias dengan seminar ini, apalagi sebelumnya Sun Life Financial juga mengadakan seminar kelola keuangan di Jakarta, dan pesertanya sangat antusias. Wah, jadi semakin excited.

Yuk, kelola keuangan dengan bijak.

Sangking excitednya, jadi peserta pertama loh saat menghadiri seminar, hehehe.. karena memang belum tahu jalan, dan nggak mau telat dong, hihihi. Setelah melakukan registrasi, sambil menunggu peserta yang lain, aku dan temanku mengisi semacam pre test tentang pengetahuan financial yang kita ketahui sebelum megikuti seminar, kurang lebih ada 10 pertanyaan. Oke, setelah mengisi dengan jawaban seadanya yang ada di kepala, yuk lah capcus dikumpulkan.

jangan lupa untuk registrasi
Beberapa menit kemudian acara dimulai, eh bukan seminarnya, tapi makan siang dulu dong, menyantap sajian dari Rocca restaurant. Setelah selesai menyantap makan siang dan sholat dhuhur, mulai deh acara seminarnya yang disambut dengan “renyah”nya 2 MC, menambah semangat untuk menerima materi. Acara dimulai dengan sambutan Ibu Shierly selaku Head of Marketing Sun life Financial. Beliau mengatakan, tujuan dari mengadakan seminar ini adalah untuk membantu kita melek financial. Kemudian mengenalkan tentang Sun life financial. Sun life financial itu sendiri bukan hanya perusahaan asuransi, tetapi juga merupakan pengelolaan kekayaan. Visi dari sun life adalah menjadi salah satu dari 10 perusahaan asuransi jiwa terbesar di dunia, dari beragam produk sun life, ternyata juga memiliki banyak produk syariah untuk memenuhi kebutuhan umat muslim di Indonesia, salah satu produk syariah yang dikeluarkan sun life adalah asuransi syariah. Sun life juga memiliki 43 kantor pemasaran syariah di seluruh kawasan Indonesia. Sun Life juga meraih banyak penghargaan, dan yang terbaru meraih penghargaan Marketing award 2015. Nah, pada saat seminar, ternyata beberapa hari sebelumnya, Sun Life membuka kantor pemasaran di Surabaya yaitu di Jalan Diponegoro No.5. Bisa tanya – tanya tentang produk Sun life, loohh…

tempat seminar

Saatnya acara inti yaitu “Bijak Dalam Mengelola Keuangan” pematerinya yaitu Bapak Alviko Ibnugroho. Beliau memulai materi dengan menjelaskan tentang Financial life cycle, yaitu :
1. Usia 20 tahun, punya banyak “waktu” tapi sedikit “uang”.
2. Usia 30 – 35 tahun, punya cukup “waktu” tapi sedikit lebih banyak “uang”.
3. Usia 40 – 50 tahun, punya sedikit “waktu” tapi banyak “uang”.


financial life cycle
Pada usia muda, biasanya kita memiliki banyak waktu untuk bermain, jalan – jalan bareng teman tetapi secara financial masih tergantung orangtua. Semakin matang usia kita, maka secara financial, kita memiliki lebih dan sudah tidak tergantung orangtua, karena memang memiliki pendapatan bulanan, tetapi semakin usia kita matang (menua) waktu yang kita miliki hanya sedikit, tidak seperti saat masih muda.

Wah, nggak nyangka, setelah itu ada games “Berbakat Kaya”, Bapak Alvino menayangkan slide yang terdiri dari beberapa pertanyaan, semua pertanyaan harus kita jawab dengan jujur. Hihi pertenyaannya ada yang bikin percaya diri, tapi semakin lama semakin membuat ragu. Setelah semua pertanyaan dijawab, kemudian dilakukan evaluasi, siapa yang banyak menjawab semua pertanyaan dengan kata “Ya” maka dia itu berbakat jadi orang kaya. Karena pada awalnya, kita dihadapkan dengan pertanyaan pengandaian, tetapi lama kelamaan pertanyaan itu berubah pertanyaan realita kita, jadinya kita yang dihadapkan dengan realita sesungguhnya banyak yang mengendor akan impian kita menjadi kaya. Miskin atau kaya itu pilihan, jika kita memilih kaya, maka harus menerima konsekuensinya yaitu melakukan banyak pengorbanan salah satunya adalah dengan kerja keras.

Ada juga games yang kedua, “Seandainya memiliki uang tunai senilai 100 juta, apa yang akan kamu lakukan?” banyak sekali teman – teman yang menjawab menabung, membeli tanah, naik haji. Bahkan jawaban ini sama persis dengan jawaban beberapa tahun yang lalu dnegan seminar financial yang sama, itu membuktikan orang Indoensia masih konservatif (berhati – hati) dengan dibuktikannya memilih menabung daripada berinvestasi. Karena sifat konservatif inilah kita banyak melakukan dosa dalam mengelola keuangan.

Banyak dosa nih..


8 Dosa sifat manusia dalam mengelola keuangan :

1. Terperangkap mitos masyarakat.

Banyak di sekitar kita beranggapan bahwa, jika ingin kaya harus jadi karyawan, seringkali tidak peduli dengan angka termasuk uang (hayo siapa yang waktu kecil benci pelajaran matematika), lebih memikirkan banyak harta terlebih dahulu ketimbangan membangun kekayaan (asset), orang yang berbicara tentang uang dianggap orang yang kuno atau ketinggalan jaman, mitos yang terakhir adalah bahwa blogger bukanlah profesi melainkan hanya sebatas hobi.

Bagaimana solusinya agar tidak terperangkap mitps masyarakat? Patahkan saja semua mitos yang ada! Yaitu : kerja tidak hanya di kantor, bangun kekayaan (misalnya membeli emas, membeli property untuk berinvestasi) karena kita paham (melek) akan financial, karena kita hidup tidak untuk sekarang tetapi untuk beberapa tahun kemudian.

2. Memilih untuk buta financial.

Kita cenderung berpikir, dapat duit kemudian dihabiskan. Kita tidak memikirkan bagaimana memperoleh uang kemudian memanfaatkannya.

Solusi dari mitos tersebut adalah mulai berpikir bahwa uang akan membawa kita ke suatu tujuan. Jika kita seorang wirausaha, baiknya menggaji diri sendiri sebegai bentuk menghargai diri sendiri, keliatan kerja karena ada gajinya.

3. Manusia cenderung berjuang untuk konsumsi (kebutuhan hidup) bukan untuk keinginan hidup.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup itu boleh – boleh saja, tetapi lebih bijak jika “Balance your life” antara kebutuhan dan keinginan.

Solusi dari dosa tersebut adalah mulai berpikir tentang keinginan. Yuk mari kita bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan : menyekolahkan anak, Keinginan : Menyekolahkan anak di sekolah favorite. Kalau mengear keinginan berarti kita akan berusaha keras untuk mewujudkannya, misalnya dengan cara menyiapkan biaya sekolah favorite. Kemudian, berbicara dengan pasangan untuk mewujudkan impian, karena dengan berbicara dengan pasangan akan mengetahui dengan jelas apa visi dan misi kita untuk ke depannya.

4. Tidak menetapkan target financial.

Kebanyakan dari kita setelah menerima penghasilan, uangnya habis untuk membayar cicilan, dan banyak yang beranggapan bahwa ribet untuk menetapkan target financial.

Solusinya adalah berpikir jangka panjang, dengan cara membuat target financial, jika memiliki keinginan besar tetapi kemampuan kecil, maka dana yang kecil – kecil terlebih dahulu, memiliki komitmen untuk mencapai target financial.

5. Tidak memperioritaskan kemakmuran financial.

Solusinya, membuat jadwal waktu untuk mengejar keinginan (misalnya 3 tahun lagi menikah, jadi mulai hari ini menyiapkan dana untuk menikah), membuat diri untuk egois dalam mencapai target (tidak tergiur diskonan).


Yuk, menjadi pribadi yang mapan financial

6. Tidak menggunakan uang dengan bijak.

Tidak bijaksana menggunakan uang, seperti membeli atas dasar emosi, duit hanya untuk bayar utang, belanja untuk menebus rasa bersalah (membelikan anak banyak mainan karena kita tidak punya waktu untuk bersama), terperangkap obral / diskonan.

Solusi dari dosa keenam adalah menggunakan uang tunai, agar tidak tergiur menggosok kartu kredit, jangan belanja ketika emosi tidak stabil (saat ke mall, makan terlebih dahulu di rumah, agar tidak kalap makan di resto), dan membuat daftar belanja agar tidak melebihi anggaran. 

7. Tidak membuat anggaran.

Banyak dari kita yang sudah untuk membuat anggaran, padahal sangat mudah untuk membuat anggran bulanan, dan banyak juga yang terjebak akan pemikiran berhemat untuk pengeluaran, padahal hemat saja tidak cukup apalagi susah untuk menghemat pengeluaran, misalnya : hemat pengeluaran transport, padahal keperluan transport sangat penting untuk kita beraktifitas, sangat sulit untuk berhemat karena harga bensin tidak menetap (berubah – ubah).

Solusinya adalah membuat anggaran, yaitu catat semua pos pengeluaran dalam sebulan, dari pengeluaran tersebut kita akan tahu mana pengeluaran yang butuh pengeluaran lebih besar. Agar tidak tutup lubang gali lubang untuk terpenuhinya semua pengeluaran, lebih baik menambah pendapatan, karena susah untuk mengurangi pengeluaran apalagi pengeluaran bersifat pokok yang tidak bisa dikurangi (transportasi, kesehatan, makanan,dll).

8. Tidak melakukan investasi.

Investasi di sini tidak hanya bersifat materi, kita mengejar S2, atau menambah ilmu dengan cara kursus, juga termasuk investasi untuk masa depan.

Studi kasus dalam dosa No.8 adalah menunda untuk menabung. Mulailah menabung dari sekarang, pada prinsipnya, menabung dalam jumlah tetap, jangan diambil (usahakan mengguanakan tabungan yang tidak menggunakan ATM, dan lakukan kegiatan menabung ini dalam jangka waktu yang lama.
Jika memang ingin berinvestasi, lebih baik konsultasikan terlebih dahulu investasi mana yang diinginkan, mengenal produk investasi lebih dalam, mengenal resiko dan keuntungan dalam berinvestasi.

Buatlah perubahan yang sangat besar, untuk menjadi pribadi “Mapan Financial”.



Setelah penyampaian materi selesai, ada sesi tanya jawab, peserta antusia untuk bertanya. Pertanyaan yang menurut saya menarik adalah jika menjadi wirausahawan, apa yang dilakukan untuk mengelola keuangan. Pak Alvino menjawab, karyawan maupun wirausahawan, harus mampu mengontrol diri, kontrol diri dalam hal konsumsi, disiplin untuk target financial, dan semua dosa yang sudah dijelaskan bisa juga untuk diterapkan kepada wirausahawan. Yup! Hasrus disiplin ya! Penghasilan dari ngeblog kita jangan langsung dihabiskan untuk konsumsi saja, tapi harus memikirkan masa depan, yang masih lajang harus mulai dari sekarang untuk menabung keperluan pernikahan karena setiap tahun harga selalu naik. Kalau pada awal sebelum materi, kita diberikan pre test, sekarang diberikan lagi setelah seminar, dengan tujuan seberapa paham sih setelah menerima materi ini, bagaimana kita “menangkap” pemahaman dari materi yang diberikan. Kalau aku sih, waktu pertama kali masih mikir – kikir jawabnya, kalau terakhir setlah materi, langsung lancar jaya jawabnya.

Semakin meriah acaranya ketika adanya quiz yang membagikan banyak voucher makan di Rocca resto, dan semakin pecah saat games dan dorprize untuk mendapatkan smartphone! Wuiiih selamat untuk semua pemenang. Semoga nanti ada lagi seminar keuangan, dengan bahasan lainnya, misalnya lebih dalam untuk mengenal produk investasi. Terimakasih untuk Sun Life, dengan adanya seminar ini, yang masih awam dalam mengelola keuangan dapat melek, dan menerapkan pengelolaan keuangan yang sudah disampaikan.





3 komentar:

  1. Kau memang on time....

    Kaya e aku memang mash berdosa soal keuangan

    BalasHapus
  2. Kalau jadi wirausaha mungkin kita harus lebih bisa kontrol dalam pengeluaran keuangan,, usaha sekecil apapun kalau di mange dengan baik pasti hasilnya akan lebih memuaskan....

    BalasHapus
  3. Saya juga sedang belajar soal pengelolaan keuangan pribadi, padahal kuliah dan kerja di ekonomi tapi borosnya minta ampun hehehehe...

    BalasHapus

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)