Belajar Parenting dari Mengasuh Keponakan Lucu




Ini merupakan postingan ringan saja. Meskipun saya belum menikah, beruntung telah memiliki keponakan yang lucu. 3 keponakan membuat hidup saya lebih berwarna. Kebeutulan ketiga keponakan memiliki perbedaan usia yang cukup jauh, ada yang masih balit, SD dan SMP.

Karena perbedaan usia, jadi saya lebih tau fase-fase anak, yang masih balit penginnya nempel mulu, digendong, dimanja, yang sudah beranjak SD aktif banget ya ampuuun, nggak pernah ada kata capek. Sedangkan yang masih SMP udah mulai cuek, menunjukan jati diri ingin diakui kalau sudah dewasa meskipun masih gemes aja lihatnya.

Saya tidak pernah minder jika belum menikah, karena saya menjalani hidup dengan santai, bertanggung jawab dan maksimal. Meskipun belum menikah, saya berasa sudah biasa dengan mengasuh keponakan, meskipun nggak bisa disejajarkan dengan kasih sayang ibu, setidaknya saya pernah ikut bantu mengasuh keponakan ketika kakak saya kewalahan.

Mulai dari ganti popok, bersihin pup, gendong, mandiin, ajak main dan lainnya. Eh, ternyata parenting itu bukan sekedar rutinitas jagain anak, lebih dari itu. Bagaimana bonding sama anak, memberikan rasa aman, jaga kesehatannya, pendidikan, dan masih banyak lagi.

Karena porsi saya sebatas penonton, saya tidak pernah ikut campur rumah tangga kakak saya. Setiap orang punya gaya pengasuhan yang berbeda-beda, dan jadi orang tua tidak pernah muda. Jadi, saya sebagai penonton, hanya melihat bukan memberikan penilaian.

Parenting tidak hanya cara asuh dari kita ke anak, tapi mulai dari pola asuh orang tua yang dulu dulu.. ibu bapak, kakek nenek dan generasi dulu. Orang tua juga belajar parenting sih, karena cakupannya luas banget.


Siapkah saya menjadi orang tua?



Saya pernah berada di posisi tidak ingin memiliki anak, pemikiran itu terjadi kehilangan Mama. Saya nggak pernah mampu menghadapai perpisahan karena kematian, terlalu berat, terlalu sulit dimengerti tentang kematian orang yang kita sayangi, masih banyak hal yang ingin lakukan bersama Mama, ternyata saya tidak pernah punya waktu lagi.

Beratnya perpisahan yang saya alami, saya tidak ingin di posisi itu lagi, bagaimana jika anak saya lebih dulu menginggalkan saya, apa yang akan saya lakukan jika terpisah dari buah hati yang disebabkan oleh kematian? Ya seseram itu pemikiran saya, secemas itu.

Meskipun akan ada banyak orang yang akan menguatkan, tapi bagaimanapun, itu adalah anak saya, nggak akan bisa ditukar oleh apapun.



ARTIKEL PILIHAN


Kecemasan berlangsung lumayan lama, saya masih mencari makna tentang kematian. Meskipun jika dipikir tentang logika, sebuah proses kehidupan. Kita berasal dariNya, maka akan kembali kepadaNya, dan beberapa pemahaman, saya masih menelan dan mencerna tentang kematian dengan rasa getir.

Manusia akan terus belajar dari masa lalu, manusia selalu akan dapat ujian selama ia masih hidup. Sayapun akan terus berproses, menerima, mengikhlaskan, belajar hal baru, dan apapun itu yang memang untuk kebaikan saya.

Tetap tebarkan cinta pada orang terdekat, lakukan hal baik sekecil apapun, apresiasi orang yang peduli padamu, karena kita nggak pernah tau kapan akan berpisah dengannya.

Jika ada pertemua, akan ada perpisahan. Semoga perpisahan yang kamu alami, dapat memberimu kekuatan.

0 comments

Posting Komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)