Mengikuti Kelas Pranikah

mengikuti kelas pranikah
Mengikuti kelas pranikah, sc: pexel/khanh le


Kurang lebih sudah seminggu ini saya mengikuti kelas pranikah, sudah 3 materi yang sudah dipelajari. Padahal baru seminggu berasa ngebul aja nih otak, karena kelas berlangsung selama seminggu. Mengikuti kelas pranikah bukan karena ngebet pengin rabi, tapi merasa butuh ilmunya. Ada banyak hal pertanyaan, dan kegagalan masa lalu berasa bingung, langkah selanjutnya bagaimana dan seperti apa. 

Sudah banyak lembaga atau yayasan keagamaan yang membuka kelas pranikah secara offline maupun online. Kalau tidak salah, sebelum kita menikah ada bimbingan juga dari KUA *cmiiw*.

Saya cari kelas online karena lebih fleksibel dan ya bisa disambi dengan kerjaan lain. Kelas yang saya ikuti merupakan kelas berbayar dan materinya worth it, apalagi berlangsung selama sebulan.


Materi yang diajarkan.


Saya nulis di sini, bukan untuk promosi kelas karena kelas semacam ini mungkin akan ada banyak pertimbangan untuk gabung di kelas, seperti mempertimbangkan pematerinya, latar belakang yayasan atau lembaga yang menyelenggarakan. Mending cari tahu sendiri aja, kemudian kalau sudah sreg bisa langsung ikutan.

Saya juga tidak lantas langsung ikutan kelas, karena saya mempelajari dulu cakupan materi, permasalahan yang diangkat dan pematerinya siapa saja. Setelah beberapa kali menyimak materi gratisnya, akhirnya saya ikutan kelasnya selama sebulan.

Kelas pranikah saat ini ada 2 level, basic dan intermediate. Berhubung saya ketinggalan info kelas basic dan buka kelasnya masih lama, jadi langsung ke kelas intermediate.



Artikel pilihan 



Kelas ini bisa diikuti siapa, masih single maupun yang sudah memiliki pasangan yang akan melangkah ke jenjang pernikahan.

Selama seminggu, banyak hal yang saya dapatkan, ternyata saya kurang mengaji, saya hanya sebatas menyuarakan Al-Quran, kurang mendalami kajiannya. Untung saja ada tugas, jadi saya buka materi sambil buka Al-Quran juga. Semakin belajar ternyata semakin sadar kalau saya masih bodoh.

Materi yang diajarkan tentu saja tentang lingkup pernikahan, komitmen, hubungan suami istri (bukan skedar se*), hubungan dengan mertua, pengendalian emosi, memahami tentang diri sendiri dan ada ta'aruf.


Ta'aruf

Kelas pranikah memang dilakukan secara online, namun kelasnya dibedakan, laki-laki dan perempuan dipisah. Nah, setelah kelas berakhir atau materi terakhir tentang ta'aruf. Penasaran sih nantinya gimana, tapi tidak terlalu berharap banyak karena ternyata saya masih banyak keurangannya, masih banyak hal yang belum saya ketahui. Tapi, insya Allah nanti mau ikutan ta'aruf, semoga baik-baik saja. hehehe.. ya di jalani saja kalau belum bertemu di kelas ini, semoga nantinya betemu dengan pria idaman di kesempatan yang lain.

Sebenarnya yang bikin kelas ini seru adalah sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta, karena pada aktif bertanya tentang permasalah pribadi maupun tentang hal yang masih bikin bingung.

Sepertinya teman sekelas saya banyak yang sudah memiliki calon, jadi curhatannya seputar hubungan mereka, dan dari situ saya malah banyak belajar jika berhadapan dengan contoh kasus, setidaknya saya sudah punya pandangan, ya meskipun permasalahan setiap orang berbeda-beda, setidaknya kita ada bekal untuk menyelesaikan suatu masalah.

Jika ingin tahu di mana saya mengikuti kelas pranikah, bisa lihat hightlight IG saya @mentionsari , semoga kita semua (yang masih jomblo) tidak berputus asa, tetap berada di jalanNya dan bertemu dengan pria yang kita butuhkan dalam keadaan yang baik. 

0 comments

Posting Komentar

Maaf moderasi terlebih dahulu, karena banyak spam. Terimakasih yang sudah berkomentar :)